Mother&Baby Indonesia
Ketahui 7 Gaya Asuh yang Melumpuhkan Karakter Anak

Ketahui 7 Gaya Asuh yang Melumpuhkan Karakter Anak

Setiap orang tua memiliki gaya pengasuhan sendiri. Namun psikolog Michele Borba, Ed. D., mengungkapkan tujuh gaya pengasuhan yang berpotensi melumpuhkan perkembangan Si Kecil. Untuk itu, Moms dan Dads perlu mengevaluasi pola asuh Anda agar tak ‘melumpuhkan’ tumbuh kembang anak, seperti berikut ini.


1. Gaya Helikopter

Orang tua seperti ini tak akan pernah beranjak jauh dari anak. Perlindungan yang diberikan kepada Si Kecil pun bertujuan agar ia tak 'terantuk’ batu sekecil apa pun dalam hidupnya. Bahkan tak jarang, orang tua rela menghentikan semua aktivitasnya demi kepentingan anak. Gaya ini diibaratkan helikopter yang senantiasa terbang rendah dan akan beraksi menjadi helikopter tempur yang akan menyelesaikan semua masalah.



Tanpa disadari, hal ini akan membuat Si Kecil sangat bergantung kepada orang tua dalam banyak hal, sehingga merasa kesulitan ketika mengatasi masalahnya sendiri. Memang, tak ada salahnya terlibat dalam keseharian anak, tapi jangan mengintervensi terlalu jauh. Dengan demikian, anak akan mampu mengembangkan kemandiriannya.


2. Gaya Inkubator


Tak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi ‘Superkid’. Demi ambisi ini, orang tua bahkan sangat mendorong anaknya untuk belajar lebih awal dari tingkat perkembangan dan usia kognitifnya. Segala cara juga dilakukan agar Si Kecil bisa menjadi anak cemerlang dan memperoleh pencapaian terbaik di segala bidang, hingga tak memberikan waktu bermain sedikit pun.

Untuk mengatasi masalah ini, Moms dan Dads perlu belajar untuk menghargai talenta dan kemampuan anak. Ingatlah bahwa setiap anak unik dan berbeda kemampuannya. Sesuaikan selalu pengasuhan dengan tahap perkembangannya.


3. Gaya ‘Band-Aid’

Gaya ini mendasarkan diri pada konsep tambal sulam sebagai solusi kilat, di mana orang tua tampaknya tidak mau terlalu repot. Untuk menegakkan disiplin, mereka biasanya mengandalkan kata kunci “Sekarang juga!” Metode berhitung “1-2-3” juga selalu digunakan untuk mengingatkan anak agar tidak nakal atau akan diberi hukuman, dan rajin mengiming-imingi hadiah yang tidak perlu sebagai reward.

Menanamkan disiplin yang efektif pada anak menuntut kesediaan orang tua untuk menyediakan perhatian, energi, dan waktu. Dengan begitu, hal ini akan membantu anak memahami apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.

Baca juga: Bagaimana Meyakinkan Orang Tua dengan Pola Asuh Kini?


4. Gaya Sok Bersahabat

Keinginan orang tua yang menggebu untuk menjadi sahabat terbaik bagi anaknya tak selamanya jadi solusi. Anda tetaplah tokoh panutannya, yang memiliki wewenang untuk menetapkan aturan dan batasan. Bahkan, gaya pengasuhan ini terbukti mencetak generasi manja.



Belajarlah untuk berani menetapkan batasan dan aturan yang jelas. Ambil kembali kendali yang seharusnya memang ada di tangan Anda. Sadari bahwa yang paling dibutuhkan anak adalah sosok orang tua dan bukan sekadar sahabat.


5. Gaya Aksesoris

Kekayaan dan kesuksesan sebagai orang tua dimanfaatkan untuk mendapatkan penghargaan anak dan lingkungan sekitar. Mereka memfasilitasi keperluan anak hanya agar tumbuh menjadi anak ‘sempurna; yang bisa dibanggakan dan dipamerkan. Sayangnya, gaya ini kerap dimanipulasi sebagai ambisi dan mimpi orang tua yang tak terealisasi.

Apabila anak gagal mengukir prestasi, mereka akan merasa bersalah. Agar ini tak terjadi, Anda harus belajar melihat anak sebagai individu unik yang berbeda dari Anda. Selalu sesuaikan pengasuhan dengan bakat, kebutuhan, dan kekhasan masing-masing anak.


6. Gaya Paranoid


Sikap paranodi membuat orang tua begitu obsesif melindungi anaknya dari ancaman bahaya, fisik maupun psikologis. Ketakutan yang berlebihan pun membuatnya tidak melepaskan pandangan dari Si Kecil sedetik pun.

Hal ini tentu bisa mengekang anak, membuatnya merasa takut, gelisah, dan kurang percaya diri terutama ketika Anda selalu berkata "Jangan!" saat ia melakukan suatu hal. Anda harus belajar untuk sedikit lebih relaks. Ketika Anda menyadari terlalu protektif, atasi kecemasan Anda sendiri dan jangan ‘menularkan’ pada anak.


7. Gaya Bayangan

Tanpa disadari, orang tua membiarkan anak diasuh oleh ‘orang luar’, seperti smartphone, komputer, Youtube, atau media massa dan hal sejenis lainnya. Anak pun jadi rentan terhadap tekanan dari luar dan akan lebih bergantung pada bimbingan dan nilai dari dunia luar, ketimbang Anda sebagai orang tua. Maka, sadarilah bahwa Anda memiliki pengaruh dan tanggung jawab untuk membimbing dan menanamkan nilai-nilai luhur, sekaligus menjaga anak dari perilaku yang penuh risiko. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Baca juga: Pola Asuh Orang Tua Millenial: Teman & Drone Parenting




Tags: keluarga,   pola asuh,   anak,   bayi,   balita








Cover Januari - Februari 2020