Mother&Baby Indonesia
Waspada DPT! Kenali Penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus

Waspada DPT! Kenali Penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus

Sejak Si Kecil berusia 3 bulan, ia wajib diimunisasi DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Moms pasti sudah mengerti akan pentingnya vaksin DPT, namun seberapa baik Anda mengetahui tiga penyakit tersebut? Nah, untuk meningkatkan kewaspadaan Moms pada difteri, pertusis, dan tetanus, simak penjelasan kami di bawah ini, yuk! 


Difteri




Ini adalah penyakit yang sangat cepat menyebar, namun mudah disembuhkan. Biasanya menyerang bagian hidung dan tenggorokan. Balita dan manula di atas 60 tahun adalah kelompok yang paling rentan mengalami penyakit ini.

Penyebaran: Bakteri difteri beredar melalui air liur penderita yang keluar saat ia bersin, batuk, berbicara, atau tertawa. Bakter itu juga menyebar melalui gelas, tisu, atau sapu tangan bekas pakai seorang penderita difteri. Masa inkubasi bakteri ini sekitar 1-6 hari. Bakteri itu menghasilkan racun yang menimbulkan semacam selaput di jalur napas sehingga menyumbat jalan napas.

Gejala: “Di awal infeksi, pasien kerap didiagnosis radang tenggorokan karena ciri awal penyakit ini mirip dengan radang biasa, yaitu demam ringan dan pembengkakan kelenjar di sekitar leher. Namun jika diperhatikan, di bagian tenggorokan itu tertutup selaput berwarna abu-abu atau kehitaman dan pasien akan kesulitan bernapas karena lama-kelamaan selaput itu menutup jalan napasnya. Jika tidak segera diatasi, dapat menimbulkan syok,” jelas Dr. Yuli Yafri Razak, SpA, dari RSIA Bunda, Menteng.


Pertusis


Ini sering juga disebut batuk rejan atau batuk 100 hari. Ciri khasnya adalah batuk berkepanjangan (sampai sekitar 1 menit) dengan bunyi yang sangat khas (batuk kering dan suaranya seperti orang tersedak) dan diakhiri dengan muntah.



Penularan: Pertusis sangat menular. Bakteri Bordetella pertussis yang menyebabkan penyakit ini menyebar melalui udara. Kuman bisa keluar saat seorang penderita pertusis batuk, bicara, atau tertawa. Percikan ludah yang tercemar mungkin akan langsung terhirup atau kuman mungkin menempel di tangan kemudian masuk ke saluran pernapasan atau saat mengusap hidung atau mulut. Bakteri ini sangat menular di masa awal infeksi hingga sekitar dua minggu setelah batuk mulai. Masa inkubasinya sekitar 7-10 hari.

Gejala: Biasanya ini juga disertai demam ringan, hidung berair, dan bersin-bersin. Bayi yang terserang pertusisi mungkin tidak mengalami batuk yang parah namun jika serangan muncul, bayi akan kesulitan bernapas sehingga wajahnya membiru dan akhirnya berhenti bernapas selama beberapa detik.


Tetanus


“Tetanus yang sering juga terjadi adalah tetanus neonatal, jika proses persalinan tidak bersih terutama pada saat pemotongan tali pusat. Tetanus bisa disembuhkan dengan antibiotik dan obat untuk mencegah kekakuan otot,” jelas dr. Yuli Yafri.

Penyebaran: Infeksi akan terjadi jika luka (sekecil apa pun) terkontaminasi oleh bakteri Clostridium tetani yang biasanya ada di tanah. Begitu bakteri masuk ke dalam tubuh, ia akan memproduksi neurotoksin, yaitu protein racun yang menyerang sistem saraf tubuh.

Gejala: Ciri khas tetanus adalah rahang terkunci karena otot trismus teracuni. Otot kaku juga biasanya diiringi kesulitan menelan dan kaku atau nyeri otot leher, bahu, dan punggung. Ini bisa merembet ke otot perut, lengan atas, dan paha. Gejala bisa muncul dalam hitungan hari sampai bulan setelah terinfeksi. (M&B/Tiffany/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   penyakit,   kesehatan,   dpt,   difteri,   pertusis,   tetanus