Mother&Baby Indonesia
Jurus Jadi Global Citizen Tanpa Melupakan Budaya Lokal

Jurus Jadi Global Citizen Tanpa Melupakan Budaya Lokal

Moms, perhatikan deh, kebiasaan anak-anak zaman now. Mereka sudah begitu fasih berbicara menggunakan bahasa asing atau hafal di luar kepala lirik lagu-lagu dari penyanyi luar negeri.

Bisa dibilang ini adalah efek dari globalisasi. Secara pengertian, globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, serta aspek-aspek budaya lainnya. So, jangan heran Moms jika saat ini anak usia balita pun sudah mulai terpapar budaya asing. Bukan hanya dari televisi atau Youtube saja, melainkan juga di sekolah. 

Ya, kini kian banyak sekolah yang mengadopsi kurikulum dari luar negeri. Bahasa Inggris menjadi salah satu bahasa pengantar yang wajib digunakan di sejumlah sekolah, baik yang bertaraf internasional maupun sekolah biasa.



Nah terkadang, orang tua begitu menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi warga dunia. Mereka diajarkan untuk berbicara bahasa asing dan mengenal kebudayaan dari luar negeri.

Masalahnya, terkadang anak yang sudah terpapar budaya asing menjadi lupa terhadap budaya lokal. Bukan hanya tidak mengenal tarian atau adat Nusantara, beberapa anak bahkan ada yang kesulitan berbicara bahasa Indonesia karena sejak kecil hanya diajarkan berbahasa Inggris. Ada pula anak yang tidak hafal lagu-lagu kebangsaan, termasuk Indonesia Raya.

Guna menyiasati hal-hal tersebut dan memperingati Hari Anak Internasional yang jatuh pada 20 November, Moms perlu memperhatikan beberapa hal berikut sehingga anak bisa tetap menjadi warga dunia alias global citizen, tanpa melupakan kebudayaan lokal.


1. Bahasa Indonesia Tetap Utama

Menguasai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, memang penting. Bukan hanya untuk pergaulan atau pelajaran, tapi juga masa depan anak. Akan tetapi akan lebih bijak apabila Moms dan Dads juga perlu membiasakan Si Kecil untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia atau setidaknya mengetahui bahasa daerah asalnya. Bagaimana pun juga, Anda tinggal di Indonesia yang membutuhkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang lain di lingkungan Anda.



Selain itu, penting bagi anak untuk menguasai bahasa Indonesia sebagai bentuk rasa cinta dan kebanggaan terhadap Tanah Air. Jangan sampai, orang asing banyak yang belajar bahasa Indonesia tapi anak Anda malah tidak fasih berbicara dalam bahasa ibu.


2. Pilih Sekolah yang Mempertahankan Nasionalisme

Memilih sekolah dengan menggunakan kurikulum internasional tentu bukan sesuatu yang salah. Tak jarang, sekolah semacam itu memang memiliki kualitas dan sarana pendidikan yang memadai. Di sekolah ini, anak bisa dengan mudah menjelma menjadi warga negara dunia karena pertukaran kebudayaan dan pemikiran berlangsung dengan cepat.

Namun satu hal yang perlu Moms ingat, pilih sekolah bertaraf internasional yang juga tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal. Artinya, murid akan tetap diajarkan untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia dan mempelajari lagu-lagu perjuangannya.


3. Tanamkan Nilai-Nilai Lokal di Keluarga

Jika memang di sekolah anak sudah terpapar dengan kebudayaan asing, tak ada salahnya jika Moms dan Dads menanamkan nilai lokal di keluarga. Bisa saja Moms mengajarkan anak berbicara bahasa daerah Anda. Atau mungkin Dads rajin mengajak Si Kecil untuk melakukan berbagai permainan tradisional Indonesia. Berkunjung ke tempat wisata daerah juga termasuk salah satu cara orang tua untuk memperkenalkan budaya-budaya lokal kepada anak, lho. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   global citizen,   globalisasi,   kebudayaan lokal








Cover Januari - Februari 2020