Mother&Baby Indonesia
Mengenal Atresia Bilier, Gangguan pada Empedu Bayi

Mengenal Atresia Bilier, Gangguan pada Empedu Bayi

Saat Si Kecil lahir, ia terlihat dalam kondisi sehat. Namun beberapa minggu kemudian, kulitnya tampak kekuningan dan tubuhnya pun semakin kurus. Jika ini terjadi, Anda harus waspada dan membawanya ke dokter, Moms. Dikhawatirkan Si Kecil mengalami gangguan saluran empedu yang disebut dengan atresia bilier.


Apa Itu Atresia Bilier?

Atresia bilier adalah gangguan yang menyerang empedu pada bayi baru lahir. Empedu sendiri memiliki peran penting dalam sistem pencernaan dan ekskresi manusia. Saluran empedu berfungsi membawa cairan empedu dari hati ke usus. Cairan empedu ini berperan dalam proses pencernaan lemak serta membuang racun dan zat limbah lain keluar dari tubuh.



Penyakit ini memang jarang ditemukan, tapi Anda tidak boleh menyepelekannya. Jika empedu Si Kecil mengalami gangguan, maka cairan empedu tidak bisa mengalir keluar dari hati. Hal ini bisa menyebabkan masalah serius pada hati dan berakibat fatal.

Atresia bilier merupakan kondisi medis neonatal yang langka, dilaporkan terjadi pada 1 dari 10 ribu bayi di seluruh dunia. Penyakit ini umumnya muncul saat Si Kecil berusia 2-4 minggu dengan gejala berupa perubahan warna kulit menjadi kekuningan. Jika Si Kecil didiagnosis atresia bilier, maka ia butuh perawatan medis segera.


Penyebab dan Gejala Atresia Bilier

Atresia bilier diduga terjadi sesaat setelah bayi lahir dan membuat cairan empedu terhambat. Meskipun begitu, belum diketahui secara jelas penyebab penyakit ini. Namun para ahli meyakini ada beberapa faktor yang berkaitan dengan munculnya atresia bilier pada bayi, yaitu:

• Masalah sistem kekebalan tubuh.

• Gangguan pada pembentukan dan perkembangan organ hati dan empedu saat janin di dalam rahim.

• Terjadinya perubahan atau mutasi genetik.

• Paparan zat kimia yang berbahaya atau beracun.



• Infeksi virus atau bakteri pasca kelahiran.

Untuk gejalanya sendiri, baru akan muncul setelah 2-3 minggu setelah Si Kecil lahir. Pada awalnya, bayi dengan atresia bilier terlihat normal saat dilahirkan. Namun 2-3 minggu kemudian Si Kecil akan mengalami sakit kuning, dengan tanda kulitnya tampak kekuningan. Berat badannya juga setelah lahir tidak mengalami peningkatan, bahkan cenderung berkurang. Penyakit kuning yang diderita juga akan bertambah parah. Gejala lainnya adalah urine Si Kecil berwarna gelap, feses atau tinja berwarna pucat dan sangat bau, serta limpa yang membesar.


Diagnosis dan Pengobatan Atresia Bilier

Jika Si Kecil mengalami gejala-gejala seperti di atas, segeralah bawa ke dokter. Untuk mendiagnosis atresia bilier, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat tanda penyakit kuning serta memeriksa warna urine dan feses bayi. Sedangkan untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan beberapa tes pada bayi, yaitu:

• Tes darah untuk memeriksa kadar bilirubin total dan langsung.

• Tes X-ray dan USG perut untuk melihat pembesaran hati atau limpa. USG juga akan memeriksa kelayakan dan fungsi empedu.

Cholangiography, yaitu pemeriksaan rontgen dengan memasukkan zat kontras pada saluran empedu.

• Biopsi hati untuk menentukan tingkah keparahan sirosis atau untuk menyingkirkan penyebab lain penyakit kuning.

Adapun untuk pengobatan pada bayi yang mengalami atresia bilier adalah dengan operasi Kasai atau hepatoportoenterostomy, yaitu memotong bagian saluran empedu yang tertutup kemudian menggantinya dengan bagian dari usus halus. Setelah itu, Si Kecil tetap memerlukan perawatan medis khusus dari dokter. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   penyakit bayi,   atresia bilier,   empedu








Related Article