Mother&Baby Indonesia
Ibu Hamil Terkena Hepatitis! Apa Efeknya bagi Janin?

Ibu Hamil Terkena Hepatitis! Apa Efeknya bagi Janin?

Hepatitis adalah istilah umum penyakit yang merujuk pada peradangan di hati. Pada orang biasa, hepatitis bisa menimbulkan masalah serius. Lantas bagaimana jika ibu hamil mengalami penyakit ini?

Moms tentu tahu, kebanyakan tubuh ibu hamil lebih rentan diserang penyakit berupa virus maupun bakteri, salah satunya hepatitis. Pada umumnya hepatitis disebabkan oleh infeksi virus, meski tak menutup kemungkinan timbulnya penyakit ini disebabkan oleh kondisi lain.

Ada beberapa jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Jika tidak tertangani dengan baik, hepatitis bisa mengakibatkan kerusakan hati atau bahkan menyebabkan kematian. Secara khusus, ibu hamil juga bisa menularkan virus hepatitis ke janinnya.



Hepatitis B dan C adalah jenis hepatitis yang paling umum terjadi selama kehamilan. Sementara itu, hepatitis B adalah bentuk hepatitis yang paling sering ditularkan dari ibu ke bayi. Sekitar 90 persen wanita hamil dengan infeksi hepatitis B akut akan mewariskan virus tersebut ke bayi mereka. Sedangkan sekitar 4 persen ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis C, akan menyebarkannya ke bayi mereka. Risiko penyebaran penyakit dari ibu dan anak juga terkait dengan seberapa banyak jumlah virus (viral load) dalam tubuh ibu, dan apakah ia juga terinfeksi HIV.


Gejala

Hepatitis pada ibu hamil seringkali tidak disadari karena gejalanya yang terlihat samar-samar, atau bahkan tidak muncul sama sekali. Moms perlu waspada jika mengalami tanda-tanda berikut ini.

• Mual dan muntah.

• Rasa lelah yang berlebih.

• Kehilangan nafsu makan.

• Demam.

• Sakit perut (terutama di sisi kanan atas, lokasi hati berada).

• Sakit pada otot dan persendian.

• Masalah jaundince alias penyakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).

Infeksi hepatitis B bisa sembuh total dalam beberapa minggu tanpa pengobatan. Ibu hamil yang sudah terbebas dari virus hepatitis B akan menjadi kebal terhadapnya. Mereka tidak bisa terkena virus lagi.



Lain halnya dengan virus hepatitis C. Kebanyakan orang dewasa yang terinfeksi virus hepatitis C akan menjadi carrier atau pembawa virus tersebut. Kebanyakan carrier hepatitis akan mengembangkan penyakit hati jangka panjang. Sebagian juga bisa menimbulkan sirosis hati dan masalah hati serius yang mengancam jiwa lainnya.

Pada ibu hamil, virus hepatitis menimbulkan risiko ketuban pecah dini, diabetes gestasional, atau mengalami pendarahan berat. Ada juga peningkatan risiko komplikasi persalinan seperti plasenta abrupsio dan kematian bayi saat lahir.


Efek pada Bayi

Bayi dalam kandungan pada umumnya tidak terpengaruh oleh virus hepatitis dari ibunya selama kehamilan. Akan tetapi, mungkin ada beberapa peningkatan risiko tertentu saat persalinan, seperti bayi lahir prematur, berat badan rendah, atau kelainan anatomi dan fungsi tubuh bayi (terutama pada infeksi hepatitis B kronis).

Risiko lainnya adalah bayi bisa terinfeksi saat lahir. Bayi mungkin terinfeksi hepatitis B saat lahir melalui paparan darah dan cairan vagina ibu selama proses persalinan. Infeksi virus hepatitis B bisa menimbulkan efek serius pada bayi dan mengancam jiwa mereka.

Anak yang terinfeksi virus hepatitis B semasa bayi, kebanyakan berlanjut menjadi kronis. Hepatitis kronis inilah yang bisa berakibat buruk pada kesehatan Si Kecil di kemudian hati, seperti terjadinya kerusakan hati (sirosis) dan kanker hati (jika disertai virus hepatitis C).

Di sisi lain, peluang ibu untuk menurunkan virus hepatitis C ke bayinya tidak terlalu besar. Hanya 4-6 persen bayi yang lahir dari ibu positif hepatitis C akan terinfeksi virus yang sama.


Mengatasi Hepatitis

Jika Moms terpapar hepatitis saat hamil, Anda kemungkinan akan diberi vaksi imunoglobulin. Namun untuk kasus hepatitis positif yang lebih parah, Anda mungkin memerlukan obat antivirus yang disebut tenofovir yang mampu menurunkan risiko perpindahan virus hepatitis B ke bayi Anda. 

Sementara itu, semua bayi akan mendapatkan vaksinasi virus hepatitis B, meski ibunya tidak terinfeksi penyakit ini. Biasanya, vaksin ini diberikan sebelum bayi meninggalkan rumah sakit. Namun jika tidak diberikan saat itu, vaksin hepatitis harus diberikan dalam dua bulan setelah kelahiran. Dosis yang tersisa diberikan dalam 6-18 bulan berikutnya. Ketiga suntikan hepatitis B diperlukan untuk perlindungan seumur hidup.

Jika Moms terinfeksi hepatitis B, dokter akan memberikan suntikan antibodi hepatitis B untuk bayi Anda dalam 12 jam setelah melahirkan. Vaksin ini sudah cukup untuk memberikan perlindungan jangka pendek bagi bayi terhadap virus tersebut. Antibodi dan vaksin bersama-sama akan efektif untuk mencegah infeksi pada bayi hingga 85-95 persen.

Jika Moms terinfeksi virus hepatitis C, biasanya bayi harus melakukan tes mulai usia delapan minggu. Pada 4-6 minggu setelahnya, akan kembali dilakukan tes PCR, diikuti tes antibodi hepatitis C pada saat Si Kecil berusia 12-18 bulan. Apabila anak Anda positif hepatitis C, ia harus rutin melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, dan kemungkinan ultrasound serta tes lainnya. Pengobatan hepatitis C pada anak bervariasi, tergantung tingkat keparahan serta kondisinya. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)



Tags: hamil,   ibu hamil,   hepatitis,   plasenta abrupsio,   diabetes gestasional








Cover Januari - Februari 2020