Mother&Baby Indonesia
Dos dan Don’ts saat Mulai Menyapih Si Kecil

Dos dan Don’ts saat Mulai Menyapih Si Kecil

Sebelum memulai proses menyapih, ada baiknya Anda perhatikan apa yang perlu Anda lakukan dan yang sebaiknya Anda hindari, Moms. Berikut panduan menyapih dengan cinta dari buku What to Expect the First Years dan situs www.baby-center.com.


Dos

1. Lakukan proses menyapih secara perlahan, misalnya dengan mengurangi secara bertahap frekuensi menyusu Si Kecil.



2. Anda sebaiknya perhatikan kondisi fisik dan psikologis Si Kecil sebelum mulai menyapihnya. Jangan menyapih ketika anak sedang sakit, sedih, kesal, marah, atau sedang berada dalam kondisi yang tidak nyaman.

3. Komunikasikan keinginan menyapih ini dengan Si Kecil. Anda pun sebaiknya memberikan penjelasan logis pada Si Kecil, kenapa ia harus berhenti menyusu, misalnya karena sudah besar dan mau masuk sekolah.

4. Alihkan perhatian Si Kecil pada hal-hal yang menyenangkan, seperti permainan yang seru, buku cerita yang penuh gambar dan warna, atau menyanyi dan menari bersama. Lakukan ini agar Si Kecil tahu bahwa tanpa menyusu langsung, ia pun masih tetap dicintai.

5. Berikan contoh melalui buku-buku cerita maupun lingkungan sosial yang menggambarkan kemandirian tokoh yang tidak menyusu pada ibunya, misalnya “Spider-Man itu hebat. Ia bisa begitu karena suka makan dan tidak menyusu lagi. Adik mau kan, jadi seperti Spider-Man?”

6. Untuk menghilangkan kebiasaan menyusu sebelum tidur, carilah rutinitas lain yang tak kalah menarik untuk Si Kecil, misalnya membacakan dongeng sambil mengusap-usap punggungnya.



7. Jika Si Kecil terbangun di malam hari dan meminta ASI, mintalah suami Anda untuk bangun dan memberikan susu dalam training cup dan mengajaknya tidur kembali dengan pelukan atau nyanyian.


Don’ts

1. Memaksa anak berhenti menyusu langsung dari payudara. Jika proses menyapih telah lama dilakukan tapi belum juga berhasil, Moms perlu mencari tahu penyebabnya. Kemungkinan Si Kecil belum siap atau berada dalam kondisi psikologis yang tidak baik. Sebaiknya hentikan dulu usaha menyapih dan ulangi lagi setelah kondisi Si Kecil lebih stabil.

2. Mengoleskan puting susu dengan jamu-jamuan atau memberi plester. Ini bukanlah tindakan yang tepat. Hal ini malahan akan membuat anak merasa trauma dan ditolak oleh sang ibu. Dalam jangka panjang, ini akan berdampak buruk bagi psikologis Si Kecil.

3. Menitipkan anak dengan tiba-tiba pada kerabat dekat selama berhari-hari, kecuali Anda ada urusan mendesak. Umumnya anak memiliki proses adaptasi yang cukup lama. Hal ini dapat membuat Si Kecil merasa tertekan karena harus beradaptasi dengan dua kondisi sekaligus, yaitu kehilangan ASI dan bersama orang yang bukan orang tuanya.

4. Menawarkan ASI sebagai senjata untuk menenangkan anak ketika menangis, marah, atau terjatuh. Carilah cara pengalihan lain yang lebih positif, misalnya melihat binatang atau bernyanyi. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   menyapih anak