Mother&Baby Indonesia
Tragis, Balita Tewas Digelonggong Air oleh Sang Ibu

Tragis, Balita Tewas Digelonggong Air oleh Sang Ibu

Nasib nahas dialami balita bernama NZL asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Bocah berusia 2,5 tahun ini mengembuskan napas terakhir setelah ‘digelonggong’ air oleh ibunya sendiri, NP (21). Peristiwa itu terjadi pada 18 Oktober silam di rumah kontrakan NP. Menurut polisi, NZL tewas setelah dicekoki air oleh sang ibu.

“Awal penanganan perkara ini, kami pihak Polsek Kebon Jeruk menerima aduan dari masyarakat, dalam hal ini pihak rumah sakit pada waktu menangani kondisi medis korban melihat ada yang tidak wajar terhadap kondisi korban,” jelas Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Irwandhy Idrus, seperti dilansir situs detik.com.

“Tersangka mengambil air yang ditampung dalam galon 19 liter, diminumkan paksa dengan cara korban ditekan hidungnya oleh tersangka, ditutup hidungnya kemudian dimasukkan air dengan menggunakan cangkir,” lanjut Irwandhy.



Kejadian ini berlangsung selama hampir 20 menit hingga akhirnya NZL mengalami muntah, kejang, dan kehilangan kesadaran. Dengan meminta bantuan tetangga, NP lantas membawa NZL ke rumah sakit. Sayang, NZL sudah tak bernyawa lagi ketika sampai di rumah sakit.

Sang ibu, NP, langsung dijadikan tersangka dan ditahan Polsek Kebon Jeruk. Pelaku dijerat dengan UU Perlindungan Anak dan Pasal 338 KUHP, dan atau Pasal 251 KUHP.


Kesalahan Ibu?

Sebagai ibu yang telah menghilangkan nyawa buah hatinya, NP memang layak diganjar sanksi pidana. Apalagi, diduga bukan hanya sekali NP diduga menganiaya anaknya. Berdasarkan luka lebam yang terdapat di tubuh NZL, balita malang ini diperkirakan sudah beberapa kali menghadapi sikap kasar sang ibu.

Di sisi lain, polisi juga menemukan fakta bahwa NP tengah berada dalam kondisi depresi akibat tekanan dari suami dan keluarganya. “Untuk motif pelaku, diduga mengalami tekanan secara psikis karena diancam akan diceraikan oleh suami. Karena tekanan tersebut, pelaku akhirnya kehilangan kendali dan emosi sehingga akhirnya secara agresif melakukan perbuatan tersebut,” kata Irwandhy.

NP dianggap tidak mampu mengurus NZL yang badannya terlihat kurus. Sebagai catatan, NZL juga memiliki saudara kembar. Sekitar enam bulan sebelumnya, NZL sempat dirawat oleh nenek alias mertua NP.



Karena adanya perbedaan fisik antara NP dan saudara kembarnya, sang nenek sempat menuding NP membedakan kasih sayang antara anak-anaknya. “Bagaimana bisa membuat gemuk dari masalah ekonomi. Dalam rumah tangganya, memang tidak mempunyai gizi yang cukup. Pelaku pun mengambil jalan pintas akan terlihat gemuk dengan memasukkan sejumlah air,” ungkap Irwandhy.

Sementara itu, NP mengaku tengah kesal terhadap suaminya sehingga kehilangan kontrol diri. Ia bersikeras tidak pernah membedakan perlakuan kepada anak-anaknya. “Menyesal. Sayang. Saya stres, saya memang tidak terkontrol. Saya lagi kesel sama suami. Kenapa saya melakukan itu, saya juga bingung,” sesal NP.


Tekanan Terhadap Ibu

Perlu diketahui, tekanan atau tuntutan berlebih terhadap para ibu memang kerap menimbulkan depresi. Ironisnya, saat ini tekanan bukan hanya datang dari suami maupun keluarga saja. Lingkungan atau bahkan sesama ibu juga seringkali saling melakukan penilaian terhadap gaya hidup, cara mendidik serta mengurus anak.

Bagi Moms yang tak mampu menghadapi tekanan berlebih tersebut, mereka akan kesulitan mengontrol emosi dan perilaku. Bukan tak mungkin, mereka akan melampiaskan emosi tersebut kepada anak-anaknya seperti yang dilakukan NP.

Yuk Moms, kurangi mom’s shaming atau menilai ibu lain agar tidak ada lagi ibu-ibu yang mengalami depresi. Bagi para Dads, jangan lupa untuk memberi perhatian khusus kepada pasangan Anda karena sejatinya tugas mengurus anak bukan hanya tanggung jawab istri. (Wieta Rachmatia/SW/Dok. Detik.com)



Tags: balita