Home - Balita - Perawatan Balita / 30 Januari 2019 / Redaksi

Demam Tifoid pada Anak dan Cara Mengatasinya

Dalam bahasa awam, demam tifoid sering disebut tifus. Penyakit yang menyerang saluran pencernaan ini lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju. Berdasarkan data WHO 2014, tifus memengaruhi lebih dari 21 juta orang setiap tahunnya, dengan sekitar 200.000 orang meninggal akibat penyakit infeksi ini.

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, demam ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kotoran (fecal-oral) dan berkaitan erat dengan kebersihan seseorang.

Anak 5 tahun ke atas rentan mengalami penyakit ini. Selain tifus, ada pula paratifoid atau paratifus. Penyakit ini hampir mirip dengan tifus, hanya saja penyebabnya adalah bakteri Salmonella parathyphii A, B, atau C. Infeksinya lebih tidak berbahaya dibanding tifoid dan respons terhadap obat umumnya lebih cepat.




Waspada Gejala Tifoid

Menurut World Health Organization (WHO), gejala demam tifoid adalah demam, sakit kepala, mual, hilang nafsu makan, konstipasi, dan kadangkala disertai diare. Demam bisa berlangsung lebih dari 1 minggu dan pada anak yang lebih besar seringkali disertai sembelit.

Demam yang dialami biasanya cukup khas, yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh secara perlahan, terutama menjelang sore hari. Jadi, kalau hari ini anak mengalami demam hingga 38 derajat C, keesokan harinya bisa menjadi 38,5 derajat C, dan terus meningkat setiap hari. Demam ini juga sulit turun walaupun sudah diberikan obat pereda demam.


Mengobati Demam Tifoid

Gejala demam tifoid ataupun paratifoid agak mirip demam berdarah dengue. Guna memastikan, diperlukan pemeriksaan darah. Untuk meredakan demam, IDAI menyarankan pemberian parasetamol dan kompres dengan air hangat di daerah lipatan ketiak dan pangkal paha selama 15 menit. Selain itu, pastikan anak banyak minum agar tidak dehidrasi.



Jika dalam 3 hari demam belum turun, segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan sampel darah anak. Bila positif terinfeksi Salmonella typhii, biasanya dokter akan memberikan terapi antibiotik. Untuk pencegahan sendiri, ada lima hal yang bisa Moms lakukan sehingga Si Kecil terhindar dari demam tifoid, yaitu

1. Untuk anak usia 2 tahun ke atas, vaksin tifoid sudah bisa diberikan. WHO menyarankan untuk melakukan vaksin suntik polysaccharide (dikenal dengan vaksin Vi-PS).

2. Untuk anak 5 tahun ke atas, berikan vaksin oral Ty21 yang sudah diformulasikan dalam bentuk kapsul. Vaksin bisa diulang setiap 3 tahun.

3. Ajarkan Si Kecil untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah dari toilet, dan sesudah bermain.

4. Biasakan anak untuk tidak jajan sembarangan. Sebaiknya bawakan bekal makanan yang lebih terjaga kebersihannya.

5. Pastikan agar air untuk minum dimasak hingga mendidih, supaya kuman benar-benar mati. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

Trik Cerdas Memilih Sepatu untuk Balita

5 Cara Cepat Menurunkan Panas pada Anak

Mengenal Sindrom Pipi Merah pada Anak, Apa Itu?

OTHER ARTICLES

Ini Alasan Bayi Baru Lahir Jangan Langsung Dimandikan

Rekomendasi 4 Area Glamping untuk Keluarga

5 Pelajaran Penting untuk Mendidik Anak Usia 3 Tahun

Bulu-Bulu Halus pada Tubuh Bayi Baru Lahir, Apa Itu?

Ibu Hamil Mudah Mengantuk? Ini Alasannya!