Home - Kehamilan & Persalinan - Persalinan / 10 April 2019 / Redaksi

Begini Cara Menghitung Kontraksi Jelang Persalinan

Rasa cemas seorang wanita saat menghadapi persalinan umumnya semakin besar saat memasuki masa kontraksi.

Kontraksi (his) adalah peregangan pada dinding rahim. Hal ini timbul akibat gerakan atau tendangan bayi dalam kandungan, atau aktivitas fisik Moms yang melelahkan. Untuk informasi, otot terbesar dalam tubuh wanita terdapat di rahim. Saat terjadi kontraksi, otot tersebut akan meregang. Kondisi ini terjadi secara alamiah, sama seperti jika Anda muntah maka otot di perut Anda juga mengalami kontraksi.

Secara umum, kontraksi dapat dijadikan sebagai tanda bahwa proses persalinan akan dimulai. Pada saat terjadi kontraksi, rahim akan mengalami kondisi meregang serta mengecil. Menyusutnya rahim membuat serviks terbuka dan mendorong bayi menuju saluran kelahiran.




Seperti Apa Rasanya Kontraksi?

Ibu hamil merasakan kontraksi pada perut bagian tengah ke bawah. Bagaimana rasanya kontraksi? Menurut Paul du Treil, M.D., Direktur Kesehatan Ibu dan Anak di Touro Infirmary Hospital, New Orleans, AS, sulit untuk menggambarkan bagaimana rasanya kontraksi persalinan karena setiap wanita bisa mengalami hal yang berbeda saat kontraksi.

Secara umum, rasanya seperti kram saat menstruasi tetapi jauh lebih menyakitkan dan semakin kuat menjelang persalinan karena pada saat ini seluruh rahim berkontraksi. Rasa sakit dari kontraksi ini terasa menjalar di sekitar pinggang juga di area punggung bawah dan panggul.

Nah, rasa sakit yang dialami akibat kontraksi ini perlu Moms hitung untuk mengetahui waktu persalinan dan seberapa cepat proses melahirkan akan terjadi. Untuk itu, yuk pelajari cara menghitung kontaksi berikut ini.


Tujuan Menghitung Kontraksi

Kontraksi yang terjadi menjelang waktu persalinan merupakan hal yang wajar dirasakan. Walaupun begitu, Moms tetap harus memerhatikan dan menghitung frekuensi kontraksi yang Anda alami.

Mencatat waktu dan durasi kontraksi sangat membantu untuk menggambarkan pola kontraksi pada dokter. Moms sendiri pun bisa mengetahui tahapan persalinan yang sedang Anda alami, sehingga Anda tahu kapan waktunya menuju rumah sakit untuk melahirkan.

Lalu, kapan mulai menghitung kontraksi? Moms bisa mulai menghitung kontraksi saat Anda mengalaminya 2-3 kali dalam beberapa menit dan polanya cukup teratur. Jika Anda mengalami 1 atau 2 kali kontraksi, tunggu yang ketiga kalinya, jadi Moms bisa tahu apakah ini kontraksi palsu atau asli. Kendati demikian, tidak ada pola standar untuk kontraksi. Karena itu, Moms tidak usah cemas jika tidak teratur mengalaminya.




Cara Menghitung Kontraksi

Ada banyak aplikasi yang bisa Moms unduh untuk menghitung kontraksi. Namun jika Anda ingin cara yang konvensional dan lebih meyakinkan buat Anda, Anda bisa gunakan stopwatch dan siapkan kertas serta pulpen. Kenapa mesti stopwatch? Karena kontaksi sering berlangsung kurang dari 1 menit, sehingga Anda perlu menghitungnya dalam detik.

Tapi, Moms tidak perlu menghitung semua kontraksi hingga mendekati proses persalinan. Tujuan utama menghitung kontraksi hanya untuk memastikan jika Anda sudah benar-benar dalam tahap persalinan. Jadi jika sudah mengetahui secara pasti, Anda tak perlu lagi menghitungnya.

Untuk membantu Anda, buatlah grafik guna mencatat penghitungan dengan mudah. Anda bisa minta bantuan suami untuk melakukannya. Buat kolom dengan judul kontraksi, satu kolom untuk “Waktu Mulai” dan satu kolom untuk “Waktu Selesai”. Tambahkan juga kolom “Durasi” untuk menghitung berapa lama setiap kontraksi berlangsung, dan kolom berikutnya untuk “Waktu Jeda Kontraksi” guna menghitung panjang waktu antara awal satu kontraksi dan awal kontraksi berikutnya.

Hindari menghitung di tengah atau akhir kontraksi yang sedang terjadi, sebaiknya tunggu kontraksi selanjutnya. Semakin akurat catatan Anda, akan semakin baik. Contohnya, daripada sekadar menulis jam 10, tulis lebih spesifik di kolom untuk “Waktu Mulai” 10:05:40. Ketika rasa sakit mereda dan kontraksi berakhir, tulis dengan tepat waktu berakhirnya seakurat mungkin, misalnya 10:06:25 di kolom “Waktu Selesai”. Setelah itu, isi kolom “Durasi”, yaitu 45 detik.

Catat juga informasi lain tentang kontraksi, seperti di mana rasa sakit dimulai, seperti apa rasanya, dan sebagainya. Informasi ini akan bermanfaat ketika kontraksi berlanjut dan Anda mulai melihat polanya.

Untuk menulis waktu kontraksi selanjutnya dimulai, kurangi waktu kontraksi sebelumnya dari awal waktu kontraksi ini dan Anda akan tahu berapa lama jeda kontraksi. Contohnya, bila kontraksi sebelumnya terjadi pada 10:05:40 dan kontraksi sekarang dimulai pada 10:25:40, maka ada jeda kontraksi selama 20 menit.

Sebagai catatan tambahan, saat kontraksi terjadi setiap 15-20 menit, Minta pasangan menghubungi dokter untuk memberitahu kondisi Anda. Saat kontraksi terjadi setiap 5 menit dan berlangsung selama 30-45 detik, segeralah ke rumah sakit. (M&B/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

Perlukah Mencukur Rambut Kemaluan Sebelum Melahirkan?

Ini yang Anda Rasakan 24 Jam Setelah Melahirkan, Moms

Tips Mengabadikan Proses Persalinan

OTHER ARTICLES

Ini Alasan Bayi Baru Lahir Jangan Langsung Dimandikan

Rekomendasi 4 Area Glamping untuk Keluarga

5 Pelajaran Penting untuk Mendidik Anak Usia 3 Tahun

Bulu-Bulu Halus pada Tubuh Bayi Baru Lahir, Apa Itu?

Ibu Hamil Mudah Mengantuk? Ini Alasannya!