Mother&Baby Indonesia
Hamil dengan Mioma, Berbahayakah?

Hamil dengan Mioma, Berbahayakah?

Miom, dikenal juga dengan nama mioma, merupakan istilah medis untuk tumor jinak pada dinding rahim. Pertumbuhan sel tumor di dalam atau di sekitar uterus (rahim) tersebut tidak bersifat kanker atau ganas. Mioma berasal dari sel otot rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yang akhirnya membentuk tumor jinak. Keberadaannya bisa dideteksi lewat pemeriksaan ultrasonografi (USG) maupun menggunakan CT SCAN ataupun MRI.

 

Ukuran mioma bervariasi, dari sebesar kacang polong sampai sebutir anggur. Berdasarkan lokasi tumbuhnya, mioma terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:



• Mioma subserosa, tumbuh di bagian luar dinding rahim

• Mioma submukosa, tumbuh di lapisan otot bagian dalam dinding rahim.

• Mioma intramural, tumbuh di antara jaringan otot rahim.

 

Gejala

Sebagian wanita pernah memiliki mioma dalam hidup mereka. Namun terkadang kondisi ini tidak diketahui oleh mereka yang mengalami karena tidak muncul gejala. Mioma kecil memang tidak memiliki gejala, tapi bila berukuran besar dapat menimbulkan masalah, antara lain:

• Nyeri di bagian perut atau pinggul

• Rasa yang sangat menyakitkan saat masa menstruasi

• Nyeri atau sakit saat berhubungan seks

• Sering buang air kecil karena mioma menekan kandung kemih

• Konstipasi atau sembelit



 

Penyebab

Hingga kini, penyebab kemunculan mioma masih belum diketahui, tapi ada kaitannya dengan hormon estrogen (hormon reproduksi yang dihasilkan oleh ovarium). Biasanya mioma muncul pada usia sekitar 16-50 tahun, saat kadar estrogen dalam diri wanita sedang tinggi-tinggnya. Setelah mengalami menopause, mioma akan menyusut karena penurunan kadar estrogen.

Mioma lebih sering muncul pada wanita dengan berat badan berlebih atau yang mengalami obesitas. Dengan meningkatnya berat tubuh, hormon estrogen di dalam tubuh juga akan meningkat. Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh. Wanita dengan ibu dan saudara perempuan yang pernah mendapatkan mioma akan cenderung memiliki mioma.

Beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko munculnya mioma adalah menstruasi terlalu dini, banyak mengonsumsi daging merah dibandingkan sayur-sayuran dan buah-buahan, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.

 

Penanganan

Menurut dr. Ardiansjah Dara Sp.OG, M.Kes dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta, mioma subserosa merupakan jenis yang paling banyak dialami wanita, namun tidak membahayakan kehamilan atau mengganggu pertumbuhan janin, karena letaknya tidak di dalam rongga rahim.

Namun mioma dapat membesar dan mengancam kehamilan selama trimester pertama lantaran ia mendorong embrio sehingga tidak menempel dengan baik di dinding rahim.

Bila kehamilan berlanjut, mioma dapat mendesak janin sehingga letaknya sungsang atau melintang. Risiko plasenta previa (plasenta yang tumbuh di bagian bawah rahim) serta perdarahan persalinan meningkat.

Karena itu, bila timbul gejala mioma, dokter akan memberi obat analgesik untuk meredakan nyeri dan Anda diminta istirahat. Anda juga disarankan untuk periksa rutin ke dokter. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: mioma,   kehamilan,   tumor








Cover Maret 2020