Mother&Baby Indonesia
Cegah Alergi, Finansial Meningkat

Cegah Alergi, Finansial Meningkat

Jumlah penderita alergi di dunia terus meningkat, termasuk di Indonesia. Biaya yang dikeluarkan untuk menanganinya pun tidak sedikit. Apalagi beredar anggapan di masyarakat bahwa semakin mahal suatu obat, semakin efektif hasilnya.

 

Kondisi ini kemudian menarik perhatian Dr. dr. Astrid Widajati Sulistomo, MPH, Sp. Ok dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IKK-FKUI) dan Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K) dari Unit Kesatuan Kerja Alergi-Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (UKK Alergi-Imunologi IDAI) untuk melakukan studi Health Economics di Indonesia.



 

Health Economics merupakan studi ekonomi di bidang kesehatan yang bertujuan untuk menentukan biaya pengobatan semurah-murahnya dengan efektivitas setinggi-tingginya. Studi ini telah dilakukan di beberapa negara, seperti Swiss, Belanda, Denmark, Perancis, Spanyol, dan Thailand.

 

Hasilnya, untuk kasus alergi, ditemukan bahwa ada hubungan antara langkah pencegahan dan peningkatan kondisi finansial keluarga, bahkan negara. Tercatat bahwa dengan mencegah alergi, Swiss berhasil mengurangi beban ekonomi negara hingga 26 miliar rupiah per tahunnya.

 

Karenanya, penting bagi orang tua yang memiliki risiko tinggi menurunkan alergi kepada anaknya untuk memahami langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan. Berikut ini beberapa jenis pencegahan alergi pada anak:

 

Pencegahan Primer

Ini merupakan upaya pencegahan alergi yang paling efisien untuk menurunkan angka kejadian alergi karena dilakukan sejak dini atau sebelum penyakit alergi terjadi. Langkah pencegahan primer:

• Menentukan risiko alergi pada anak dengan mengidentifikasi penyakit alergi (dermatitus atopik, asma, pilek alergi) pada salah satu atau kedua orang tua maupun saudara kandung. Tingkat risiko alergi dibagi menjadi 3, yaitu risiko kecil (5-15 persen), sedang (20-40 persen) dan tinggi (40-60 persen).



• Moms tidak perlu melakukan pantang makanan selama masa kehamilan untuk mencegah terjadinya penyakit alergi pada anak. Pantang makanan dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi untuk ibu dan janin.

• Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif sampai usia 6 bulan direkomendasikan untuk pencegahan penyakit alergi. Kandungan zat dalam ASI kaya akan berbagai macam sel dalam sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menghambat munculnya alergi.

• Memberikan makanan padat secara bertahap pada anak mulai usia 6 bulan.

• Untuk anak dengan risiko alergi tinggi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai pilihan nutrisi yang tepat.

• Menghindari pajanan asap rokok selama masa kehamilan maupun sesudah melahirkan untuk mencegah penyakit alergi pada anak.

 

Pencegahan Sekunder dan Tersier

Cara pencegahan ini dapat dilakukan bila anak mengalami alergi dan bertujuan untuk mencegah terjadinya alergi yang lebih berat.

Pencegahan sekunder dan tersier bisa dilakukan apabila Si Kecil telah terpajan suatu alergen (rangsangan/zat dari luar tubuh yang menimbulkan reaksi alergi) atau telah mengalami penyakit alergi.

Tindakan ini dilakukan untuk mencegah agar gejala alerginya tidak berulang dan menjadi berat, misalnya dengan menghindari alergen penyebab munculnya alergi. Moms dapat segera konsultasi kepada dokter untuk langkah-langkah lebih lanjut yang diperlukan dalam pencegahan ini.

Selain itu, Anda juga perlu memerhatikan nutrisi yang didapatkan Si Kecil. Pemenuhan nutrisi yang lengkap dapat mendukung kekuatan, perkembangan otak, dan pertumbuhan fisiknya sehingga tumbuh kembang anak pun tetap optimal. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   keluarga,   keuangan,   alergi








Cover Maret 2020