Mother&Baby Indonesia
8 Mitos Salah Tentang Alergi Susu Sapi

8 Mitos Salah Tentang Alergi Susu Sapi

Seiring dengan perkembangan usia Si Kecil, sistem imunnya pun ikut berkembang. Ketika sistem imunnya mendeteksi protein susu sapi sebagai zat berbahaya, maka sistem imunnya akan melawan dan muncullah alergi susu sapi. Sayangnya, banyak orangtua yang kurang mengerti tentang alergi susu sapi. Berikut adalah 8 mitos yang termasuk salah tentang alergi susu sapi. Apa sajakah itu?

 

1. Alergi susu sapi tidak berbahaya



Gejala alergi susu sapi sangat bervariasi, dari yang ringan hingga berat seperti kulit gatal, gangguan pencernaan dan gangguan pernapasan. Jika tidak dicegah sedini mungkin, maka dapat mengancam jiwa, terutama pada Si Kecil.

Gejala-gejala yang berpotensi serius antara lain syok anafilaksis, edema laring, diare dan muntah kronis, radang dan pendarahan usus, serta kebocoran protein dari usus. Jika gejala-gejala ini muncul, Moms harus langsung membawa Si Kecil ke dokter spesialis anak untuk perawatan.

 

2. Alergi susu sapi muncul pada anak di atas usia satu tahun

Sekitar 2-7,5 persen anak lahir dengan alergi susu sapi, dan dari jumlah tersebut, sebagian besar gejala muncul dalam satu tahun pertama kehidupannya.

 

3. Anak yang tidak mendapatkan ASI akan terkena alergi susu sapi

Alergi susu sapi dapat dialami siapa saja, tetapi anak yang mendapatkan 6 bulan ASI eksklusif memang memiliki risiko alergi susu sapi lebih rendah. Ini dikarenakan kadar protein susu sapi di ASI 100.000 kali lebih rendah dibandingkan susu formula.

 

4. Alergi susu sapi dan intoleransi laktosa adalah dua hal yang sama

Alergi susu sapi terjadi akibat sistem imun anak bereaksi menolak protein susu sapi. Berbeda dengan intoleransi laktosa, yang terjadi akibat susu kekurangan enzim laktase. Inilah yang membuat usus kesulitan mencerna laktosa.



 

5. Alergi susu sapi tidak dapat sembuh

Sebagian besar anak alergi susu sapi akan sembuh dengan sendirinya. 50% akan sembuh pada usia kurang dari satu tahun, Sedangkan 85-90 persen akan terbebas dari alergi susu sapi pada usia 3-5 tahun.

 

6. Alergi susu sapi bukan penyakit turunan

Anak dengan orangtua alergi susu sapi lebih berisiko mengalami alergi susu sapi. Jika salah satu orangtuanya memiliki alergi, kemungkinan anak mengalami alergi susu sapi adalah 20-40 persen. Tetapi jika kedua orangtua memiliki bakat alergi, risikonya akan meningkat menjadi 40-60 persen.

 

7. Melarang anak minum susu sapi akan mengurangi risiko alergi susu sapi

Anak alergi susu sapi sebaiknya menghindari susu dan semua produk turunannya. Bahkan para ahli pun menganjurkan kepada orangtua untuk menunda pemberian susu sapi hingga anak berusia satu tahun.

 

8. Gejala alergi susu sapi butuh waktu lama untuk muncul

58 persen kasus gejala alergi susu sapi dapat terlihat dalam dua jam pasca konsumsi susu sapi atau pun produk turunannya, sementara 42 persen sisanya akan timbul lebih dari dua jam bahkan hingga beberapa hari setelah konsumsi susu sapi. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: balita,   susu sapi,   alergi










Cover April 2020