Home - Kehamilan & Persalinan - Kehamilan / 26 Juni 2018 / Redaksi

Waspada Emboli Air Ketuban

Secara harfiah, emboli air ketuban diartikan sebagai masuknya air ketuban (atau bagian dari janin, seperti kulit yang terlepas atau lemak janin) ke dalam jaringan pembuluh darah ibu. Air ketuban dan bagian dari janin ini dapat masuk ke dalam pembuluh darah ibu hingga menciptakan emboli yang menghalangi sirkulasi. Hal tersebut dapat membuat kerusakan pada sistem peredaran darah, juga kegagalan fungsi jantung hingga menyebabkan kematian. Emboli ini bisa muncul selama kehamilan atau sesaat setelah persalinan.

 

Gejala dan faktor risiko



Salah satu hal yang menakutkan dari emboli air ketuban adalah diagnosisnya sulit dibuktikan. Emboli air ketuban juga merupakan komplikasi langka dalam persalinan yang dicirikan dengan turunnya tekanan darah secara tiba-tiba, turunnya kesadaran, dan terjadinya pembekuan darah tersemi (disseminated intravascular coagulation/DIC). Emboli air ketuban sangat jarang terjadi, hanya sekitar 1 di antara 15.000 persalinan (data di Inggris) dan 1 di antara 27.000 persalinan di Asia Tenggara. Sekitar 70 persen emboli air ketuban terjadi sebelum dan saat persalinan. Kasus ini tidak hanya terjadi pada persalinan normal ataupun operasi caesar saja, tetapi juga pada tindakan kuret, abortus, penjahitan serviks, maupun pengambilan plasenta yang tertinggal.

Gejala yang dialami ibu dengan emboli, antara lain gagal napas, hipotensi, kejang, uterus atonia, dan gawat janin. Selain itu, ada gejala yang sering dianggap sama dengan penyakit lain, seperti rasa cemas berlebih, menggigil, nyeri kepala, dan nyeri di sekitar dada atau ulu hati. Bila ibu mengalami emboli saat kehamilan, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan persalinan darurat.

Faktor risiko emboli air ketuban juga sulit dicari, karena kasusnya jarang terjadi. “Namun ada beberapa faktor yang mungkin menjadi risiko, yaitu usia ibu lebih dari 35 tahun, persalinan caesar, persalinan dengan vakum dan forceps, plasenta previa, solutio plasenta (lepasnya sebagian atau seluruh plasenta), eklampsia, dan gawat janin. Faktor yang lain adalah air ketuban janin yang banyak (polihidramnion) dan luka pada bibir rahim atau sobekan rahim,” jelas dr. Yuditiya Purwosunu, Sp.OG (K).



 

Penanganan

Hingga kini, kasus emboli masih sulit dicegah. Pengobatannya pun tergantung dari lokasi emboli itu mengendap di tubuh ibu. Bila emboli mengendap di pembuluh darah kecil, efeknya tidak terlalu besar. Namun, bila emboli bersarang di pembuluh darah organ vital, kematian sering tidak dapat dihindari.

Namun kemajuan teknologi deteksi senyawa kimia (dengan liquid chromatography) bisa mendeteksi beberapa senyawa yang berkaitan dengan air ketuban dalam sirkulasi ibu. Sayangnya pemeriksaan ini berdurasi lama dan biasanya dilakukan setelah ibu mengalami komplikasi. Jika pasien berhasil selamat, ia akan dirawat di ICU untuk meningkatkan tekanan darah, mengobati DIC, dan mencegah kejang. “Pengobatan ini dilakukan hanya untuk menunggu sistem organ kembali normal secara alami,” jelas dr. Yuditiya. (M&B/SW/Dok. Freepik)

share to BBM

 

 


RELATED ARTICLE

Jangan Cemas, Hiperpigmentasi Saat Hamil Bisa Hilang

Mengatasi Konstipasi Saat Hamil

4 Cara Atasi Migrain Saat Hamil

OTHER ARTICLES

7 Tipe Balita Teman Playdate Anak yang Perlu Anda Tahu

8 Rekomendasi Mainan untuk Bayi usia 5 Bulan

Mitos Tentang Hamil Anak Laki-laki atau Perempuan

Ketahui Cara Memompa ASI Hingga Lancar dengan Benar

6 Jenis Alat Kontrasepsi Hormonal untuk Wanita