Mother&Baby Indonesia
Anak Juga Bisa Idap OCD, Ini Penjelasannya

Anak Juga Bisa Idap OCD, Ini Penjelasannya

Umumnya anak-anak akan mengeluarkan semua mainannya ketika bermain dan membuat ruangan menjadi berantakan. Namun, berbeda ketika mereka mengalami gangguan bernama OCD atau obsessive compulsive disorder.

 

Ini adalah suatu gangguan perilaku yang memaksa individu untuk melakukan tindakan tertentu dengan cara tertentu. Mereka terlalu obsesif pada sesuatu sehingga dapat menghabiskan waktu hanya untuk hal tersebut.



 

Contohnya, ia meletakkan mainan di sebelah kiri dan Anda menggesernya sedikit saja, maka Si Kecil bisa marah hingga mengamuk. Pada dasarnya wajar jika seorang anak memiliki ketakutan dan kekhawatiran. Namun, OCD membuat mereka tidak dapat mengatasi rasa tersebut sehingga mengganggu kenyamanan mereka sendiri.

 

Gejala Perilaku OCD

OCD memengaruhi satu dari 100 anak-anak sekolah di Amerika Serikat dan lebih umum daripada diabetes pada remaja. Gejalanya sendiri cukup terlihat, dari perilaku, gerak tubuh, hingga kebiasaan obsesif terhadap sesuatu.

Hal tersebut membuat pikiran Si Kecil menjadi irasional dan berkembang tanpa terkontrol, sehingga menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran berlebihan. Berikut beberapa gejala yang terlihat:

  • Suka atau tertarik dengan sesuatu yang kotor, tetapi takut sakit.

  • Memeriksa dan mengecek ulang suatu hal berkali-kali. Misalnya, mengecek tatanan buku di tas atau posisi mainan yang telah disusun sendiri.

  • Khawatir berlebihan dengan keselamatan orang yang dicintai, seperti orangtua yang tidak kunjung sampai rumah karena terjebak macet di perjalanan.

  • Obsesi dengan simetri atau memiliki hal-hal dalam pola yang spesifik dan seragam.

  • Fokus pada detail dan menuntut kesempurnaan dari suatu hal terkecil sekali pun.

  • Impuls yang terus-menerus atau dorongan agresif untuk melakukan sesuatu, terutama pada remaja.

 



Penyebab OCD

Anak yang mengalami OCD bisa disebabkan dari 3 hal:

  1. Meski belum ada penelitian khusus, namun faktor genetik menjadi salah satu penyebab anak mengidap OCD. Faktor biologis juga menjadi pengaruh, terlebih jika ada pihak keluarga yang mengalami kelainan tertentu.

  2. Studi juga menghubungkan antara Gangguan Neuropsikiatrik Pediatri Otomatis yang terkait dengan infeksi Streptokokus (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal infections/PANDAS) dengan OCD.

    Infeksi ini terjadi karena paparan antibodi strep, yang dapat menyebabkan perubahan neurologis dalam tubuh dan menyebabkan gangguan tic (melakukan serangkaian gerakan berulang yang tidak disengaja, di luar kendali, dan bersifat tiba-tiba) atau OCD.

  3. Kesalahan komunikasi di dalam otak Si Kecil juga menjadi pengaruh ia mengidap OCD. Sumber lain menyebutkan bahwa neurotransmiter seperti serotonin, glutamat, dan dopamin dapat berkontribusi terhadap timbulnya OCD dalam beberapa cara.

  4. Anak yang mengalami depresi juga bisa mengalami gejala OCD yang bisa terus berkembang.

 

Penanganan Terhadap OCD

OCD faktanya tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, namun bisa dikurangi tingkat kekambuhan dengan terapi perilaku kognitif. Ada dua jenis pengobatan yang bisa Moms lakukan untuk Si Kecil:

  1. Psikoterapi

    Melakukan psikoterapi dapat melatih respons dan merupakan perawatan yang paling efektif untuk anak dengan OCD. Perawatan ini membantu memodifikasi perilaku kompulsif anak, dengan menargetkan pikiran obsesif.

    Terapis akan mencoba memahami akar penyebab pikiran obsesif dan mencari cara menghilangkannya. Terapi ini membutuhkan waktu dan bisa sulit dilakukan oleh anak-anak kecil, terutama yang belum memahami cara berpikir secara rasional.

  2. Farmakologi

    Cara lain mengurangi kekambuhan OCD adalah dengan pemberian obat, dengan tetap melakukan terapi. Dokter biasanya meresepkan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) untuk mengurangi kecemasan.


Pemberian obat ini dapat membuat Si Kecil bisa menerima terapi perilaku. Kombinasi obat-obatan dan terapi perilaku kognitif dapat bekerja dengan baik untuk kondisi gangguan yang parah. Namun, perawatan terbaik juga tergantung pada respons anak terhadap setiap pilihan pengobatan.

Selain medis, pihak keluarga tentu juga perlu membantu Si Kecil agar dapat menerima dirinya sebagai pengidap OCD. Setiap anggota keluarga harus memahami apa itu OCD. Moms juga bisa membantu menjelaskan pada Si Kecil dengan menyebut OCD sebagai Mr. Bossy sehingga ia lebih mudah dalam mengenal diri sendiri.

OCD bukanlah penyakit berbahaya, ini adalah gangguan perilaku yang bisa ditangani dengan pemahaman dan cinta kasih dari orang tua dan anggota keluarga lainnya, Moms. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: balita,   anak,   ocd








Cover Januari - Februari 2020