Mother&Baby Indonesia
3 Persepsi yang Keliru Tentang Ibu/Ayah Rumah Tangga

3 Persepsi yang Keliru Tentang Ibu/Ayah Rumah Tangga

Mengurus anak di rumah pada umumnya dilakukan seorang ibu. Namun, saat ini mulai banyak ayah yang menggantikan istri mereka dalam merawat anak di rumah. Memilih menjadi orang tua yang tinggal di rumah, faktanya bukan hal yang mudah. Ada beberapa hal harus dikorbankan demi pertumbuhan Si Kecil yang optimal.

 

Hal tersebut memunculkan persepsi yang keliru mengenai orang tua yang menetap di rumah. Moms atau sang ayah harus ekstra sabar untuk menghadapi tiga persepsi berikut ini:



1. Anda Harus Memilih Antara Menetap di Rumah atau Karir

Siapa bilang Anda tidak bisa menjadi orang tua yang mengurus anaknya sendiri sambil mengejar karier? Zaman sekarang, semua bisa dilakukan dengan lebih mudah. Stereotip mengenai memburuknya kinerja seorang ibu dalam bekerja sudah terpatahkan. Banyak dari ibu baru bahkan masih sanggup mengerjakan proyek besar dengan tetap mengurus Si Kecil dengan baik.

 

Jika Anda menemukan keahlian lain, misal dalam berbisnis. Walau hanya sekedar menjadi reseller atau bahkan bisa menjual barang produksi sendiri, bisa tetap Anda lakukan meski menjadi orang tua yang menetap di rumah. Anda tetap bisa memiliki kegiatan dan mengurus anak dengan maksimal.


2. Ayah Rumah Tangga Tidak Bertanggung Jawab

Persepsi di atas menjadi salah satu yang saat ini dinilai keliru oleh masyarakat modern. Tentu tidak ada salahnya menjadi ayah yang tinggal atau menetap di rumah dan mengurus anak-anak mereka. Bahkan fakta membuktikan bahwa sampai Si Kecil berusia 5 tahun, pengaruh ayah sangat penting dalam pertumbuhan mereka.



 

Sebuah studi menemukan bahwa balita dapat merespons lebih baik ketika ditangani seorang ayah dibanding ibunya. Waktu bermain yang lebih bebas membantu mereka berkembang lebih maksimal. Si Kecil juga dapat lebih terampil dalam hal kepemimpinan dan kreativitas. Jika masih terasa aneh, ingatlah bahwa separuh ayah di dunia memiliki profesi yang sama, yaitu menjadi ayah rumah tangga.


3. Ibu Rumah Tangga = Penghalang Ibu Berkembang

Sering kali kesetaraan seorang wanita yang telah menjadi ibu menjadi suatu perdebatan yang panjang. Bagi banyak wanita, mereka merasa bahwa kesetaraan berarti mereka harus bisa bekerja. Menjadi ibu rumah tangga berarti merendahkan dan menghalangi mereka untuk berkembang.

 

Konsep ini tentu keliru. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak dapat melakukan berbagai hal menyenangkan. Seorang ibu bisa tetap menjadi traveller dan pergi ke berbagai tempat. Moms juga bisa mengajak Si Kecil bermain di luar ruangan dengan bebas. Lakukan apa yang hati kecil Anda inginkan selama itu adalah pilihan sendiri. (Vonia Lucky/TW/Dok. Freepik)



Tags: ayah,   anak,   karier,   psikis,   orangtua,  








Cover Januari - Februari 2020