Mother&Baby Indonesia
Kenali Mikrotia, Kelainan Bawaan pada Telinga Anak

Kenali Mikrotia, Kelainan Bawaan pada Telinga Anak

Anda pasti merasa sedih ketika melihat daun telinga Si Kecil tidak berkembang seperti seharusnya. Kondisi kelainan bawaan ini dikenal dengan mikrotia. Bayi dengan kelainan ini akan mengalami susunan yang tidak teratur pada sisa-sisa tulang rawan yang melekat di jaringan lunak pada lobulus telinga.

Hal ini mengakibatkan terjadi ketidaktepatan posisi telinga, hingga mengganggu pendengaran bayi. Berdasarkan data dari National Deaf Children Society (NDCS), mikrotia lebih sering dialami oleh anak laki-laki. Sekitar 90 persen mengalami kelainan yang bersifat unilateral atau hanya terjadi di satu telinga, dan umumnya telinga kanan.




Penyebab

Dr. Ferryan Sofyan, Sp.THT-KL dari RSIA Stella Maris, Medan, menjelaskan bahwa kondisi ini dialami sejak bayi berada dalam kandungan, khususnya di trimester pertama. Kondisi tersebut dapat dideteksi dengan cara memeriksa kondisi janin menggunakan USG.

“Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti mikrotia. Namun perkiraan medis, kondisi ini dipicu faktor genetika, pengaruh lingkungan, serta penggunaan obat-obatan di trimester pertama,” jelasnya. Oleh sebab itu, dr. Ferryan menyarankan agar ibu hamil lebih memerhatikan asupan gizi, tingkat stres, dan menghindari konsumsi obat-obatan.


Jenis Mikrotia

Di Indonesia, mikrotia dibagi ke dalam 4 derajat, yaitu:

• Derajat 1: Telinga luar terlihat normal namun sedikit lebih kecil, disertai lubang di bagian luar atau tidak.

• Derajat 2: Ada beberapa struktur telinga yang hilang, seperti tidak terbentuknya skapa, lobulem helix, maupun konka.

• Derajat 3: Telinga berbentuk seperti kacang tanpa struktur normal. Umumnya, pada derajat ini telinga hanya tersusun dari kulit dan lobulus yang tidak sempurna pada bagian bawah. Juga pada jaringan lunak di bagian atas, atau tidak ada lubang telinga luar. Kondisi ini diklarifikasi sebagai mikrotia klasik dan paling banyak dialami. Dibutuhkan proses operasi rekonstruksi 2 tahap atau lebih.



• Derajat 4: Bayi tidak memiliki telinga bagian luar dan liang telinga, atau biasa disebut anotia.


Cara Mengatasi

“Meskipun 90 persen anak dengan mikrotia memiliki pendengaran normal, sebagai upaya penanganan awal, perlu dipastikan apakah Si Kecil memiliki gangguan pendengaran atau tidak. Caranya dengan melakukan berbagai pemeriksaan pendengaran secara lengkap,” tutur dr. Ferryan.

Pada beberapa situasi, penderita mikrotia bisa mengalami kesulitan mendengar. Misalnya saja mereka sukar mengidentifikasi arah datangnya suara meski sumber suara dekat dengan bagian telinga yang bermasalah. Mereka juga kesulitan memahami percakapan saat berada di tempat ramai.

Penggunaan alat bantu pendengaran khusus berupa Bone Anchor Hearing Aid (alat bantu dengar konduksi tulang) sangat dibutuhkan. Supaya kelak ia bisa mendengar dengan baik dan tidak mengganggu perkembangan bicara.

Tindakan operasi untuk pengobatan baru bisa dilakukan saat Si Kecil berusia 6-8 tahun. Saat itu, kartilago tulang iga sudah cukup memadai untuk dibentuk sebagai rangka telinga.

Saat usia 3 tahun, Si Kecil sudah menyadari ada yang berbeda pada bagian telinganya. Sebagai orang tua, Anda perlu meningkatkan kepercayaan diri Si Kecil dengan menanamkan bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan berbeda-beda. Dan, perbedaan yang ia miliki bukanlah sesuatu yang aneh atau memalukan. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   kesehatan,   anak,   mikrotia,   telinga








Related Article