Mother&Baby Indonesia
Mengenal dan Mengatasi Penyakit Kuning pada Bayi

Mengenal dan Mengatasi Penyakit Kuning pada Bayi

Moms, pernahkah Anda melihat bayi yang baru lahir berwarna kuning? Atau mungkin waktu Si Kecil lahir, ia mengalami gejala tersebut? Penyakit kuning bisa menyerang bayi yang baru lahir. Tanda-tanda bayi kuning adalah kulit dan bagian putih mata Si Kecil berwarna kuning. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat pulih dengan sendirinya dalam hitungan hari sampai minggu. Meskipun demikian, kondisi tersebut bisa saja membahayakan si Kecil. Karena itu, Moms perlu mengenal dan mencegah penyakit kuning pada bayi.


Jaundice atau ikterus atau di Indonesia lebih dikenal sebagai penyakit kuning pada bayi adalah perubahan warna pada kulit dan mata bayi yang baru lahir menjadi kuning. Gangguan ini umum terjadi pada bayi baru lahir, terutama pada bayi prematur dan bayi yang kekurangan cairan.




Penyebab

Warna kuning yang sering terlihat di permukaan kulit bayi baru lahir disebabkan oleh kadar bilirubin berlebihan di aliran darahnya. Munculnya warna kuning dimulai dari wajah, lalu ke dada, perut, lengan, telapak tangan, kaki, hingga telapak kaki, sejalan dengan meningkatnya kadar bilirubin di darah bayi.

Bilirubin adalah pigmen berwarna kuning, hasil proses penguraian sel-sel darah merah atau eritrosit yang mati oleh organ hati. Pada orang dewasa, bilirubin akan dikeluarkan dari tubuh saat buang air besar. Namun, pada bayi baru lahir, organ hati belum sempurna sehingga belum berfungsi optimal dalam menyaring dan mengeluarkan bilirubin. Akibatnya, bilirubin menumpuk dalam darah dan menyebabkan warna kuning pada permukaan kulit.




Cara Mengatasi

Bayi kuning atau hiperbilirubinemia sering terjadi pada 3-4 hari setelah kelahiran. Menurut dr. Rouli Nababan, Sp.A., Moms perlu mengecek bilirubin bayi. Jika di hari ke-3 serum bilirubinnya tidak lebih dari 11,7, berarti bayi Anda dalam kondisi aman. Namun jika lebih tinggi dari batas tersebut, ia harus segera mendapatkan terapi sinar.

Bayi dengan bilirubin tinggi biasanya malas minum dan banyak tidur. Hal ini dapat membuatnya mengalami dehidrasi dan serum bilirubinnya pun semakin tinggi. Anda boleh saja hanya menjemur dan menyusui bayi, asalkan pola minumnya tetap baik dan angka bilirubinnya masih di area 11,7-12. Hal terpenting untuk diketahui adalah penyakit kuning tidak menetap dan terjadi paling lama 3 minggu. Jika melebihi waktu tersebut atau jika kadar bilirubinnya tinggi, maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kadar bilirubin yang terlalu tinggi pada darah Si Kecil bisa menembus ke otak, merusak sel-sel otak, dan menyebabkan ensefalopati. Gejala yang mungkin muncul adalah demam, muntah, lesu, sulit bangun tidur, kulit menguning, sering rewel dan gelisah, serta kemampuan mengisap yang buruk. Jika bayi Anda menampakkan tanda-tanda di atas, segera hubungi dokter agar si Kecil mendapat penanganan secepat mungkin dan terhindar dari kerusakan permanen pada otak. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: bayi,   penyakit kuning,   jaundice,   ikterus,   bilirubin










Cover April 2020