Mother&Baby Indonesia
Risiko Anak Picky Eater dan Penanganan yang Tepat

Risiko Anak Picky Eater dan Penanganan yang Tepat

Jika Si Kecil tidak mau makan, Anda pasti khawatir. Bagaimana jika ia hanya mau makan makanan tertentu saja alias picky? Hmmm, ternyata banyak orang tua yang belum paham bahwa itu adalah sebuah masalah yang serius.

Ternyata, ada banyak hal yang bisa memicu anak menjadi picky eater. Dan, ada serangkaian tahapan yang perlu Anda lakukan untuk mengatasinya. Picky eater adalah anak yang memiliki masalah pola makan. Berikut ini ciri pola makan anak picky eater, Moms.

• Menyukai hanya 1 tipe makanan.



• Makan diemut.

• Makan tidak teratur.

• Hanya sedikit makan buah dan sayur.

• Lebih memilih minum daripada makan.

• Sangat pemilih terhadap makanan.

• Menolak makan.

• Tidak nafsu makan.

• Tidak mau mencoba makanan baru.




Risiko Picky Eater

Seorang anak bisa menjadi picky eater karena dorongan lingkungan. Lingkungan makan yang kurang baik dan ketidaktersediaan makanan tepat waktu menjadi faktor lingkungan yang memengaruhi. Selain itu, kondisi kesehatan anak dan perkembangan oral motor yang kurang sempurna bisa menjadikan anak picky.

“Ketersediaan makanan sesuai dengan usia anak, kebutuhan gizinya, dan pola makan secara kultur juga memengaruhi kebiasaan makan seorang anak,” kata Prof. Emilie G. Flores, M.D., M.P.H., seorang konsultan gizi medik.

Sementara Dr. Julistiyo Djais, Sp.A(K), spesialis anak Divisi Gizi dan Penyakit Metabolik RS Hasan Sadikin, Bandung, berpendapat bahwa orang tua tidak boleh menggantikan makanan anak dengan hanya minuman pengganti makanan. “Ada tata laksana khusus untuk menangani picky eater dengan benar. Sebab, jika tidak ditangani dengan benar, anak akan berhenti tumbuh. Mereka juga akan kekurangan energi untuk beraktivitas dan belajar. Daya tahan tubuh mereka pun rendah,” ujarnya.

Anak pemilih makan juga mengalami risiko terserang penyakit infeksi, kekurangan gizi, dan memiliki indeks perkembangan mental yang rendah.


Penanganan Terbaik

Masalah picky eating harus ditangani segera dan terpadu agar efek negatif pola makan itu tidak merusak semakin jauh. Untuk itu, Prof Emilie menyarankan langkah-langkah berikut ini:

1. Perbaikan sikap dan konsultasi untuk orang tua. Orang tua bisa menjadi kunci untuk memperbaiki pola makan Si Kecil. Orang tua harus mengambil peran sebagai pendamping makan yang baik. Moms dan Dads juga harus memberikan contoh makan yang benar serta menyediakan macam makanan yang bergizi sempurna.

2. Merancang perbaikan nutrisi dan mengejar kekurangan yang terjadi. Karena kebiasaan memilih makanan akan membuat tubuh kekurangan zat gizi, perbaikan nutrisi adalah terapi penting yang harus segera dilakukan. Suplemen susu untuk picky eater boleh diberikan untuk mengejar kekurangan gizi yang terjadi, tetapi tidak boleh menjadi makanan utama, sebab tubuh tetap perlu zat gizi yang lain. (M&B/SW/Dok. Freepik)



Tags: anak,   balita,   picky eater








Cover Januari - Februari 2020