Home - Kehamilan & Persalinan - Kehamilan / 29 Oktober 2018 / Redaksi

Mengenal Jenis-Jenis Kontraksi

Kontraksi adalah salah satu bentuk ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil seiring dengan membesarnya rahim. Jika sudah mendekati persalinan, otot-otot rahim secara teratur akan meregang lalu kembali mengendur.

 

Saat kontraksi, perut bagian bawah akan terasa mengeras, yang kadang disertai rasa nyeri, namun ada kalanya tidak. Ketika rahim dalam keadaan tenang usai kontraksi, saat itulah serviks atau mulut rahim terbuka sedikit demi sedikit yang memungkinkan posisi bayi terdorong menuju jalan lahir. Kontraksi atau yang sering disebut power, menjadi 1 dari 3 faktor penentu sekaligus ciri utama dimulainya proses persalinan.



 

Lantas kapan kontraksi muncul? Mendekati due date, kontraksi bisa saja muncul saat Anda tidak beraktivitas, saat Anda merasa lelah sehabis beraktivitas, atau ketika Anda melakukan aktivitas seksual.

 

Akan tetapi, kontraksi sebetulnya tidak hanya terjadi menjelang persalinan, melainkan juga pada minggu-minggu sebelumnya karena dinding rahim menjadi lebih tipis dan peka terhadap rangsangan bahkan gerakan spontan. Menurut dr. Farchan Djoened, Sp.OG, berdasarkan tingkat ketegangan otot, penyebab, dan masa terjadinya, ini jenis-jenis kontraksi yang bisa dialami oleh ibu hamil:

 

Kontraksi Dini

Biasanya terjadi pada trimester pertama, saat tubuh ibu masih dalam proses penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat kehamilan. Kontraksi dini perlu diwaspadai bila terjadi secara konstan disertai dengan keluarnya bercak darah. Segera konsultasikan kondisi tersebut pada bidan atau dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya keguguran atau kelahiran prematur.

 

Kontraksi Hubungan Intim

Lantaran takut keguguran atau khawatir bayi lahir prematur, tidak sedikit ibu hamil yang mengurangi atau bahkan puasa berhubungan intim sewaktu hamil. Kekhawatiran ini ada benarnya karena sperma mengandung hormon prostaglandin yang menyebabkan kontraksi. Kontraksi yang belum saatnya tentu dikhawatirkan menjadi pencetus keguguran, pecah ketuban sebelum waktunya, atau persalinan prematur.

Itulah sebabnya ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran, pernah melahirkan prematur, memiliki riwayat perdarahan pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya, atau mulut rahimnya lemah, biasanya dianjurkan oleh dokter untuk membatasi porsi dan intensitas hubungan seksual di minggu-minggu akhir kehamilan.

Tentu saja jika sepanjang kehamilan Anda sehat dan kehamilan normal tanpa komplikasi, kontraksi yang muncul saat berhubungan intim sama sekali tidak meningkatkan risiko terjadinya keguguran atau persalinan prematur.

 



Kontraksi Palsu

Kontraksi yang lazim disebut Braxton-Hicks ini ada kalanya mulai dirasakan pada minggu ke-20 dan akan lebih intens saat kehamilan memasuki usia 32-34 minggu atau di minggu-minggu akhir kehamilan. Ditilik dari rasa nyerinya, amat mirip dengan kontraksi sungguhan, yakni seperti nyeri saat kram haid. Namun durasi maupun jarak antara 1 kontraksi dengan kontraksi berikutnya sama sekali tidak mengenal pola keteraturan seperti pada kontraksi sebenarnya. Artinya, waktu kemunculan kontraksi palsu tak bisa diprediksi, bisa saja muncul setiap 30 menit atau bahkan 1-2 jam dengan durasi sekitar 30 detik.

Ciri lain yang membedakan, nyerinya lebih terasa di perut bagian bawah, bukan menyeluruh seperti pada kontraksi sungguhan. Untuk memastikan, dokter akan memeriksa apakah sudah ada pembukaan mulut rahim, kepala bayi sudah turun, dan sudah ada penipisan serviks.

Braxton-Hicks perlu dicermati serius jika dirasakan lebih dari 4 kali dalam tenggang waktu 1 jam, dibarengi rasa sakit pada punggung, perut, dan panggul, serta adanya vlek.

 

Kontraksi Sungguhan

Sebenarnya ibu hamil bisa menguji apakah yang dirasakannya benar kontraksi sungguhan atau kontraksi palsu. Caranya, saat muncul kontraksi, segeralah berbaring dan rabalah perut. Jika seluruh perut terasa keras seperti kram, itulah kontraksi sungguhan. Kontraksi sungguhan juga bisa dicermati dari rasa mulas yang dirasakan mendominasi secara merata di bagian atas perut, kemudian menjalar ke pinggang.

Perhatikan pula kemunculannya. Kontraksi sungguhan bersifat hilang-timbul, namun frekuensinya memiliki pola teratur dengan intensitas semakin sering dan lama kontraksinya semakin panjang. Di awal mungkin terjadi 3 kali, masing-masing dengan durasi 20-40 detik dalam rentang waktu 10 menit. Bila pembukaan jalan lahir semakin besar, durasinya semakin lama, bisa terasa selama 1 menit. Frekuensinya pun meningkat menjadi 5 kali dalam rentang waktu 10 menit.

Anda dikatakan sudah memasuki tahap persalinan aktif bila kontraksi bertahan selama 1 menit dan muncul secara teratur setiap 5 menit sekali atau bahkan lebih sering. Kontraksi sungguhan inilah yang membantu tubuh Anda menyiapkan jalan lahir bagi Si Kecil.

 

Kontraksi Anomali

Beberapa kontraksi berikut masuk ke dalam kategori kelainan dan perlu mendapat perhatian serius:

• Kontraksi Inkordinat adalah kontraksi yang hanya terjadi di bagian tertentu sehingga pembukaan jalan lahir tidak mengalami kemajuan. Ini disebabkan oleh ketuban pecah atau miom.

• Kontraksi Tetanis adalah kontraksi yang terlalu kuat dan kelewat sering seolah tanpa jeda, sehingga otot-otot rahim sama sekali tidak mendapat kesempatan relaksasi. Ini harus diwaspadai karena dikhawatirkan terjadinya solusio placentae atau lepasnya plasenta dari dinding rahim. Jika terjadi harus segera dilakukan operasi caesar.

• Kontraksi Inersia adalah kontraksi yang lemah dan pendek dalam fase persalinan aktif. Umumnya disebabkan oleh kondisi fisik ibu yang kurang prima, seperti kurang gizi, anemia, atau TBC. (M&B/SW/Dok. Freepik)

 

 


RELATED ARTICLE

Apakah Operasi Usus Buntu Pengaruhi Kehamilan?

10 Tips Atasi Kaki Bengkak saat Hamil

Moms, Kenali Hidramnion dan Cara Mengatasinya

OTHER ARTICLES

Moms, Ini Cara Membuat Anak Menjadi Si Happy Eater

Postnatal Anxiety, Takut Berlebih Ibu Baru pada Bayinya

Saat Anak Tidak Mau Lepas dari Ibunya, Mesti Bagaimana?

Manfaat Corat-Coret untuk Perkembangan Anak

Bagaimana Mengatasi Perbedaan Pandangan soal Anak?