Mother&Baby Indonesia
Teknologi Dalam Makanan, Baik atau Tidak?

Teknologi Dalam Makanan, Baik atau Tidak?

Di era yang serba praktis ini, para ilmuwan terus mengembangkan teknologi untuk memajukan kehidupan manusia. Pengembangan ini pun dilakukan dalam banyak hal, termasuk di makanan. Semakin banyak kandungan yang dibuat secara kimiawi dan masuk ke dalam makanan sehari-hari. Lalu, apa saja kandungan yang dibuat tersebut? Dan apakah dampaknya baik atau buruk, bagi tubuh Moms, Dads dan juga Si Kecil? Berikut ini penjelasan selengkapnya tentang teknologi pada makanan yang ada.


Produk GMO (Genetik Modified Organism)

Produk GMO ialah makanan yang diperoleh dari rekayasa genetika. Makanan tersebut mengalami perubahan DNA melalui proses bioteknologi modern, yang gunanya untuk memberikan nilai tambah, baik dari segi rasa, warna, dan bentuk. Rekayasa genetika ini ditemukan di berbagai makanan, mulai dari daging sapi, ayam, telur, hingga buah-buahan. Munculnya produk GMO diawali dari kebutuhan pasar akan pangan yang memadai, dari segi kuantitas dan kualitas.



Hingga kini, belum ada penelitian kalau produk GMO dapat menimbulkan mutasi gen dan kanker. Namun menurut Dr. Grace Junio-Kahl, Msc, MH, Cht, pakar bariatik, secara teoritis terdapat kemungkinan bahwa poduk GMO menjadi salah satu penyebab dari 2 hal tersebut.

Anda dapat menghindari produk GMO dengan membeli produk organik. Namun, bila dana terbatas, Anda bisa menyiasatinya dengan menggambungkan pangan organik dengan bahan pangan yang dijual di pasar. Sayur, buah, dan daging yang dijual di pasar relatif bukan produk hasil GMO.


Pemanis dan Pewarna Buatan

Pemanis buatan adalah pemanis yang dibuat dari bahan alami dan diproses melalui proses sintetik dan kimia. Bisa juga bahan bakunya dihasikan murni dari proses kimiawi. Terdapat jenis pemanis buatan yang umum terkandung dalam makanan. Beberapa di antaranya adalah aspartam, sakarin, asesulfam potasium, sukralosa, sorbitol, maltitol, isomalt, xylitol, dan manitol. Masing-masing memiliki tingkat kemanisan yang berbeda dan lebih manis dibandingkan gula alami.

Sedangkan pewarna buatan ditambahkan untuk meningkatkan warna pada makanan atau minuman, sehingga menjadi lebih menarik secara visual. Pewarna sintetis pun hanya beberapa yang boleh dikonsumsi dengan batasan tertentu. Jenisnya seperti tartrazin, kuning kuinolin, kuning FCF, karmoisin, ponceau, eritrosin, merah allura, indigotin, beri berlian FCF, hijau FCF, dan cokelat HT. Beragam jenis pewarna ini diperoleh melalui proses kimia dengan mencampur 2 zat atau lebih.

Hingga kini, belum ada penelitian yang dapat membuktikan dampak buruk dari pemanis dan pewarna buatan, meski sering dikaitkan sebagai penyebab kanker. Namun, Dr. Grace menganjurkan balita tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung pemanis dan pewarna buatan. Jika terpaksa, pastikan tidak mengonsumsi lebih dari 1 kali dalam sehari.




Hormon Tambahan

Injeksi hormon sudah dilakukan selama beberapa dekade dalam industri dagang dan susu. Namun, dikabarkan hal tersebut juga sudah dilakukan pada tumbuhan. Menginjeksi hormon bertujuan agar hewan ternak serta tumbuhan tumbuh lebih cepat. Jika tumbuhan semakin bertambah besar atau hewan dapat memproduksi susu lebih banyak, maka bertambah pula keuntungan produsen. Namun, hormon tambahan pada daging dicurigai mampu mempercepat pubertas pada anak-anak.

Ada pula beberapa kalangan yang mengatakan bahwa ini memicu risiko kanker vagina dan payudara. Kendati demikian, jawabannya belum diketahui secara pasti. Menurut para ahli, dampak buruk mengonsumsi makanan dengan hormon tambahan cukup sulit untuk dibuktikan. Sebab, hormon secara natural muncul di makanan dan tubuh manusia. Dan, efeknya hampir tidak kentara serta muncul dalam waktu yang lama. Negara-negara seperti Jepang, Kanada, Australia, dan Selandia Baru sudah mengambil tindakan dengan melarang penjualan daging berhormon tambahan tersebut.


Pengawet Makanan

Pengawetan makanan merupakan metode yang digunakan untuk menjaga kondisi makanan dan mencegah kerusakan. Hal ini bisa terjadi karena disebabkan oleh faktor kimiawi (oksidasi), fisik (temperatur, cahaya), atau biologis (mikroorganisme).

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, di antaranya dimasukkan ke dalam kaleng, melalui proses pengeringan, diasap dan dibekukan, dikemas, serta ditambahkan zat kimia tertentu. Mengonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet secara berlebihan disinyalir dapat menyebabkan rasa mual dan sakit kepala pada orang yang peka terhadap bahan-bahan kimia.

Karenanya, Anda harus memerhatikan makanan dan minuman yang dibeli untuk Si Kecil. Pastikan juga bahwa makanan tersebut sudah mendapat izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Dan sebisa mungkin, konsumsi asupan buatan rumah saja, Moms. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: nutrisi,   makanan,   teknologi pangan








Cover Maret 2020