Mother&Baby Indonesia
Kecukupan Konsumsi Gula untuk Balita

Kecukupan Konsumsi Gula untuk Balita

Siapa yang tidak suka makanan dan minuman yang manis? Si Kecil kesayangan Anda pasti sangat suka akan rasa manis dibandingkan dengan rasa lainnya, seperti asam, asin, dan pahit. Namun, segala asupan yang ditambahkan gula jika dikonsumsi secara berlebihan akan berdampak buruk bagi kesehatan.


Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga lalai mengontrol asupan gula buah hati mereka. Akibatnya, Si Kecil menjadi terbiasa dengan makanan dan minuman manis, sampai-sampai menolak asupan yang lebih bernutrisi. Kandungan gula tambahan atau added sugar sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tubuh. Apa alasannya? Simak penjelasan dari Mother&Baby Indonesia berikut ini.




Kenapa Tidak Perlu Gula Tambahan?

Menurut Dr. Grace Judio-Kahl Msc, MH, CHt, gula yang paling dibutuhkan tubuh adalah glukosa. Sumber glukosa bisa didapatkan dari makanan-makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, roti, dan sereal. Selain itu, sumber glukosa yang baik juga terdapat dalam buah-buahan, sayuran, dan madu, bukan dari makanan dan minuman bergula tambahan. Glukosa menjadi sangat penting, karena merupakan sumber energi yang digunakan Si Kecil untuk beraktivitas sehari-hari.


Batas Gula Tambahan

Meski sebenarnya gula tambahan tidak dibutuhkan tubuh, sulit untuk mengontrol keinginan Si Kecil yang sering meminta makanan dan minuman manis. Oleh karenanya, Anda perlu membatasi asupan gula setiap hari.

Baru-baru ini American Heart Association merilis data terbaru mengenai rekomendasi gula tambahan untuk anak-anak. Bagi anak usia 2 sampai 18 tahun, dianjurkan hanya mengonsumsi gula tambahan kurang dari 6 sendok teh setiap hari. Sementara itu, Dr. Grace menyarankan agar balita hanya boleh mengonsumsi 3 sampai 5 sendok teh setiap harinya.


Panduan untuk Anda

Penggunaan gula tambahan memiliki aturan internasional. WHO merekomendasikan agar jumlah gula yang boleh ditambahkan ke dalam makanan dan minuman adalah maksimal 10 persen dari total kalori per hari, atau setara dengan 3-12 sendok teh. Setiap 1 sendok teh sama dengan 4 gram gula pasir.


Saat berbelanja ke supermarket, Anda juga harus jeli membaca kandungan gula yang tertera dalam setiap produk. Produk mengandung gula tambahan apabila terdapat istilah seperti sukrosa, glukosa, honey, fruktosa, maltosa, syrup, brown sugar, corn sweetener, high fructose corn syrup, malt sugar, invert sugar, dan raw sugar. Selain itu, kenali istilah-istilah berikut:



• Sugar free atau bebas gula: mengandung 0,5 gram gula per sajian.

• Less sugar: kandungan gula dikurangi 25 persen gula per sajian.

• Tanpa gula tambahan (no added sugar): tidak mengandung gula tambahan.


Bahaya Gula pada Si Kecil

Sebelum mengabulkan keinginan Si Kecil yang meminta dibelikan makanan dan minuman manis setiap hari, ada baiknya Anda memikirkan dampak bagi kesehatannya kelak. Beberapa akibat buruk yang bisa terjadi, antara lain:

1. Banyak makan manis akan merusak gigi Si Kecil, karena sisa-sisa gula yang menempel pada gigi dapat menyebabkan terjadinya karies atau gigi berlubang.

2. Gula adalah karbohidrat. Apabila terlalu banyak dikonsumsi akan menyebabkan kenaikan berat badan, bahkan dapat menyebabkan Si Kecil terkena obesitas.

3. Gula sangat adiktif. Jika Si Kecil suka makanan dan minuman manis, maka kebiasaannya itu akan sulit dihentikan. Pada akhirnya, ia akan cepat merasa kenyang dan menolak makanan lain yang lebih bermanfaat untuk tumbuh kembangnya.

4. Beberapa orang meyakini jika gula menyebabkan anak menjadi hiperaktif atau dikenal sebagai sugar rush. Menurut Dr. Grace, sebenarnya belum ada studi yang membuktikan hal ini, namun secara teori kemungkinan bisa saja terjadi. Konsumsi makanan manis akan meningkatkan gula darah. Kenaikan gula darah akan memompa energi Si Kecil, sehingga ia menjadi hiperaktif dan sulit berkonsentrasi. Karenanya, hindari memberikan makanan manis kepadanya di malam hari. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   balita,   gula










Cover April 2020