Mother&Baby Indonesia
Waspada Gejala Infertilitas pada Pasangan Suami-Istri

Waspada Gejala Infertilitas pada Pasangan Suami-Istri

Infertilitas terjadi apabila pasangan suami istri, telah berhubungan intim secara rutin, tanpa alat kontrasepsi tetapi tidak kunjung hamil dalam setahun. Dokter Ardiansjah Dara, Sp.OG M.Kes menjelaskan bahwa risiko infertilitas bisa dialami oleh wanita maupun pria.

 

Dari sisi wanita, setidaknya ada 3 penyebab utama ketidaksuburan ini, yaitu kelainan atau gangguan hormonal seperti menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi, terjadi masalah atau penyumbatan pada saluran telur (tuba falopi), dan masalah pada ovarium atau rahim.



 

Masalah pada ovarium biasanya disebabkan oleh miom, polip, bahkan pada beberapa kasus disebabkan oleh sindrom Asherman. Wanita mengalami sindrom Asherman, jika sebelumnya pernah melakukan kuret yang tidak sesuai prosedur, sehingga rahim mengalami perlengketan. Akibatnya, ia tidak mendapatkan menstruasi.

 

Selain itu, ketidaksuburan juga bisa disebabkan karena wanita mengalami PCOS (polycistic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik. PCOS adalah masalah kesehatan yang disebabkan ketidakseimbangan hormon, karena tingginya kadar hormon androgen pada wanita.

 

Namun ada kabar baik! Anda tidak perlu khawatir karena infertilitas dapat diobati, terutama jika diketahui penyebabnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Anda melakukan pemeriksaan dan pengobatan sesegera mungkin.

 

Mengatasi Ketidaksuburan

Pada istri, proses mengatasi ketidaksuburan akan melalui beberapa tahapan, seperti pemeriksaan hormonal dan HSG (histerosalpingografi). Pemeriksaan HSG ini dilakukan untuk mengetahui sumbatan serta mengecek kondisi rahim, untuk mendeteksi kelainan seperti miom, polip dan perlengketan (adhesi) dinding rahim.

 



Adapun pada suami, pengecekan ketidaksuburan umumya akan dilakukan dengan pemeriksaan sebagai berikut:

• Gondongan setelah Pubertas. Dari pemeriksaan, dokter akan mengetahui, apakah Anda pernah terinfeksi dan mengalami sakit mumps (gondongan) setelah masa pubertas yang mengganggu kesuburan.

• Penyakit Kronis. Jika Anda pernah atau sedang menderita diabetes (yang bisa menimbulkan gangguan fungsi reproduksi atau tidak bisa ereksi), kanker, atau penyakit tiroid, perlu penanganan medis serius agar dapat menghasilkan sperma yang sehat dan dalam jumlah cukup untuk membuahi sel telur.

• Penyakit Genetik. Dokter akan memeriksa apakah ada keluarga dari Anda yang menderita penyakit genetik, termasuk alergi. Bagi pasangan suami-istri yang telah menanti kehadiran si kecil sejak lama, dokter akan menganjurkan mereka melakukan tes genetika untuk memastikan kondisi suami dan istri optimal untuk pembuahan yang sehat.

• Tumor di Buah Zakar. Dokter akan memeriksa organ reproduksi Anda, antara lain terhadap kemungkinan adanya tumor atau gangguan lain di buah zakar. Gangguan pada organ reproduksi dapat mengakibatkan berkurangnya kesuburan calon Dads.

General check up. Anda juga perlu melakukan tes kesehatan secara menyeluruh. Tujuannya, agar calon Dads sehat dan bugar, tidak mengidap penyakit menular yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan calon ibu dan janin. Termasuk tes darah untuk mengetahui apakah ada HIV/AIDS, sifilis, dan infeksi menular seksual lainnya.

• Uji lab sperma. Dari uji sperma di laboratorium, kondisi, jumlah, dan bentuk sperma yang sehat dapat diketahui. Normalnya, sekitar 200-300 juta sel sperma sehat akan memburu sebuah sel telur untuk dibuahi.

 

Jika Anda dan suami telah melakukan pemeriksaan dan hasilnya normal, maka Anda perlu mengevaluasi hubungan intim Anda dengan pasangan. Hal penting yang perlu Anda tahu, wanita mengalami ovulasi atau masa subur hanya sekitar 1 hari (24-36 jam) dalam 1 siklus.

 

Hitunglah jumlah hari saat istri menstruasi dan lakukan hubungan intim pada hari tersebut. Dengan begitu, peluang untuk hamil pun akan meningkat. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   suami,   istri,   ketidaksuburan,   infertility










Cover Mei-Juni-Juli 2020