Mother&Baby Indonesia
Waspada Epilepsi pada Anak, Yuk Deteksi Dini Gejalanya!

Waspada Epilepsi pada Anak, Yuk Deteksi Dini Gejalanya!

Moms, apakah anak Anda pernah mengalami kejang dan keluar busa dari mulutnya?  Anda perlu waspada, ya Moms karena kejang disertai mulut berbusa bisa jadi tanda anak mengalami epilepsi. Oleh karena itu, penting sekali bagi Moms untuk mengetahui gejala, penyebab dan cara menangani epilepsi.

 

Apa sih epilepsi itu? Epilepsi adalah gangguan sistem syaraf di otak, sehingga menyebabkan kejang atau perilaku tidak biasa, bahkan hilang kesadaran. Pada saat  serangan epilepsi, terjadi gangguan berupa letupan listrik abnormal di otak yang dapat memengaruhi pola pergerakan dan kesadaran penderita. Penting kita tahu Moms, otak memiliki jutaan sel syaraf yang mengontrol cara berpikir, bergerak, dan merasa dengan mengirimkan sinyal listrik ke satu sama lain. Nah, jika sinyal listrik ini terganggu oleh letupan tersebut, maka akan menimbulkan epilepsi. Gangguan epilepsi ini dapat menyerang seluruh bagian otak (epilepsi umum) atau sebagian otak (epilepsi parsial).



 

Penyebab epilepsi
Berdasarkan temuan penyebabnya, epilepsi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu epilepsi simptomatik, kriptogenik, dan idiopatik. Letupan listrik pada otak tersebut dapat timbul akibat kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tumor otak, cedera kepala, infeksi pada otak (meningitis, encephalitis), gangguan pembuluh darah (stroke), cacat lahir, dan kelainan genetika, serta 30% belum diketahui penyebabnya. Epilepsi yang telah diketahui penyebabnya ini termasuk ke dalam epilepsi simptomatik. Sedangkan, yang belum diketahui penyebabnya adalah epilepsi idopatik dan kriptogenik. Sedikit berbeda dengan idopatik, meskipun pada epilepsi kriptogenik tidak menunjukkan kerusakan pada otak, namun gangguan belajar yang diderita menunjukkan adanya kerusakan.

 



Gejala epilepsi
Gejala epilepsi tidak selalu berupa kejang disertai mulut berbusa. Gejala ini dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, tergantung dari jenis epilepsi yang menyerang. Pada kasus epilepsi umum, gejala dapat terlihat dalam bentuk tangisan, seluruh tubuh mendadak kaku, tangan dan kaki kelojotan, disertai lidah tergigit dan mengompol yang berlangsung selama 30-60 detik. Pada kasus-kasus tertentu, anak dapat tiba-tiba jatuh lemas seperti pingsan. Sedangkan, pada serangan epilepsi parsial, gejala yang timbul dapat berupa gerakan berulang tanpa tujuan dan anak terlihat tidak dapat mengontrol perubahan perilakunya.

 

Penanganan epilepsi

Meskipun belum dapat disembuhkan, namun beberapa tindakan dapat mengurangi frekuensi terjadi serangan epilepsi, seperti rutin mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE), tidur dan istirahat cukup, makan teratur, mengurangi kegiatan menonton dan berada di depan komputer terlalu lama, serta menghindari kelelahan dan stres. Dukungan emosional dari pihak keluarga dan teman juga sangat dibutuhkan agar anak tidak menjadi rendah diri, sehingga dapat menemukan potensi dirinya. Umumnya, kejang yang dialami karena epilepsi tidak mengancam nyawa. Namun, bila kejang telah terjadi selama lebih dari 5 menit disertai sesak napas atau serangkaian kejang pendek tanpa kembali sadar di antara kejang, segera kunjungi dokter. (Claudia/Meiskhe/HH/dok.Freepik)



Tags: anak,   epilepsi,   gangguan,   syaraf,   neurologis,   gejala,   otak,   masalah,   kejang,   busa,