Mother&Baby Indonesia
Kehamilan Lewat Waktu, Waspadai Risikonya!

Kehamilan Lewat Waktu, Waspadai Risikonya!

Moms, umumnya ibu hamil menjalani proses kehamilan antara 38 hingga 41 minggu. Akan tetapi, adakalanya usia kehamilan mencapai lebih dari 42 minggu. Itulah yang dinamakan kehamilan lewat waktu. Dalam bahasa medis, hal ini disebut postterm atau protulonged pregnancy.

Menurut dr. Irsyad Bustamam, Sp.OG dari RSIA Hermina Podomoro, Jakarta, kehamilan lewat waktu umumnya terjadi karena 'keliru' dalam penetapan atau penghitungan tanggal menstruasi. Kesalahan menghitung usia kehamilan ini terjadi karena siklus haid yang tak jelas. Ya, ketika seorang calon ibu mengalami terlambat datang bulan, belum tentu telah mengalami pembuahan. Nah, pembuahan terjadi pada 2-3 minggu kemudian.
 

Selain adanya kekeliruan penghitungan usia kehamilan, kehamilan lewat bulan juga bisa terjadi karena:



- Calon ibu mengalami riwayat postterm sebelumnya.

- Faktor genetik. Sekitar 30 persen terjadi karena faktor genetik.

- Faktor janin. Misal, terjadi kelainan pertumbuhan tulang tengkorak, kelainan letak janin, janin besar (makrosomi). Namun hal-hal ini jarang terjadi.

- Faktor ibu. Misal, kekurangan hormon tiroid atau kekurangan enzim sulfatase di plasenta.

Nah, bila usia kehamilan sudah memasuki 42 minggu namun belum ada tanda-tanda akan melahirkan, dokter akan melakukan antisipasi. Di antaranya, pemantauan kesejahteraan janin dilihat dari jumlah air ketuban, kematangan plasenta dan pemeriksaan kardiotokografi.

Bila perlu dilahirkan segera, dokter akan menentukan cara persalinan. Bila dipilih persalinan secara normal/pervaginam, biasanya dokter akan melakukan induksi dengan obat-obatan. Pada kondisi tertentu, persalinan terpaksa melalui operasi caesar misalnya karena induksi gagal, ukuran bayi terlalu besar, gawat janin dan lain lain.

 

Waspada Komplikasi

Perlu Moms tahu juga, persalinan lewat waktu dapat menyebabkan komplikasi, baik pada ibu maupun janinnya. Adapun komplikasi yang bisa terjadi pada janin, di antaranya:

1. Insufisiensi plasenta

Fungsi plasenta berkurang. Ini terjadi karena plasenta yang sangat vital fungsinya dalam menyalurkan zat-zat gizi dan oksigen telah mengalami penuaan. Alhasil, ini menyebabkan janin kekurangan asupan oksigen dan zat gizi. Ujung-ujungnya, bayi dapat mengalami asfiksia, dimana bayi tak dapat bernapas secara spontan dan teratur begitu ia lahir.

 

2. Defisit air ketuban

Penurunan atau berkurangnya cairan ketuban bahkan bisa sampai habis/kering. Penyebabnya karena terjadi penurunan aliran darah ginjal janin karena redistribusi aliran darah terganggu pasokan oksigennya. Penurunan air ketuban ini dapat menyebabkan kompresi tali pusat atau penekanan pada pembuluh darah tali pusat yang akan menurunkan suplai darah ibu ke janin.

 



3. Aspirasi mekonium

Pada kondisi kekurangan oksigen, usus janin akan bekerja lebih aktif sehingga mengeluarkan mekoneum (tinja janin) yang banyak. Air ketuban yang tercampur mekoneum in bila masuk ke paru janin akan menyebabkan sumbatan yang berakibat janin kekurangan oksigen.

 

4. Neonatal ensefalopati, yaitu gangguan fungsi otak bayi baru lahir.

 

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada ibu antara lain: persalinan tak maju, persalinan dengan vakum atau forsep, robekan jalan lahir berat dan persalinan sesar.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kehamilan berlangsung tepat waktu. Yaitu;

1. Lakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur sesuai jadwal.

Pemeriksaan ini minimal 4 kali sepanjang usia kehamilan, yaitu satu kali di trimester I, dua kali trimester II dan trimester III. Ada juga bumil yang ingin kontrol teratur sebulan sekali hingga pada usia 8 bulan. Lalu, saat memasuki usia kehamilan 9 bulan, pemeriksaan seminggu sekali.

Tujuan kontrol rutin agar kita dapat mengetahui dengan pasti kondisi janin, termasuk mengetahui berapa usia janin dalam rahim. Dengan demikian, bila terjadi kehamilan lewat waktu bisa dilakukan pencegahan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

 

2. Konsumsi makanan bergizi, olahraga sesuai kemampuan serta istirahat yang cukup.

Bumil juga bisa mengikuti kelas senam hamil dan melatih pernapasan. Diharapkan Moms akan siap menghadapi persalinan kelak.

 

3. Persiapkan mental

Siapkan mental sejak awal untuk menghadapi berbagai kemungkinan cara persalinan kelak. (Hilman/Dok. Freedigitalphotos.net)



Tags: hamil,   kehamilan,   janin,   bayi










Cover April 2020