Mother&Baby Indonesia
Awas Preeklampsia! Kenali Gejala Hingga Pencegahannya

Awas Preeklampsia! Kenali Gejala Hingga Pencegahannya

Moms, rasanya sungguh bahagia ya ketika dokter menyatakan Anda positif hamil. Perasaan senang inipun biasanya langsung dibagikan pada suami, keluarga dan orang-orang terdekat lainnya. Namun, seiring proses perjalanan kehamilan, Moms biasanya akan menemui kendala. Salah satu problem yang perlu diwaspadai adalah preeklampsia.

 



Apa itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah gangguan yang biasanya muncul pada akhir kehamilan (setelah minggu ke-20). Sekitar 8% wanita hamil menderita preeklampsia.

 

Kenali Gejala Preeklampsia

Gejala utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat secara tiba-tiba. Naiknya tekanan darah bisa terjadi dengan lambat, akibatnya sulit untuk memastikan kondisi ini. Penting bagi ibu hamil untuk memonitor tekanan darah secara rutin. Berikut beberapa gejala dari preeklamsia:

  • Pembengkakan parah pada wajah dan telapak tangan.
    Pembengkakan di pergelangan kaki yang tidak kunjung hilang setelah beristirahat selama 12 jam.
    Kenaikan berat badan mendadak yang tidak terkait dengan kebiasaan makan.
    Sakit kepala yang tidak dapat diredakan dengan obat nonresep.
    Rasa sakit perut bagian atas.
    Penglihatan kabur atau ganda.
    Peningkatan tekanan darah (hingga 140/90 atau lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya tidak pernah mengalami tekanan darah tinggi).
    Ditemukan protein dalam air seni.
    Denyut jantung cepat.
    Air seni hanya sedikit.
    Fungsi ginjal abnormal.
    Reaksi refleks berlebihan.


 

Penyebab Tak Pasti

Sampai saat ini, belum diketahui penyebab preeklampsia. Namun, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa terdapat masalah pada plasenta yang merupakan organ yang menghubungkan suplai darah ibu hamil dengan suplai darah janin yang dikandungnya, serta nutrisi selama janin di dalam kandungan diberikan melalui plasenta.



Pada awal kehamilan, pembuluh darah baru berkembang dan berevolusi untuk secara efisien mengirimkan darah ke plasenta. Nah, pada wanita dengan preeklampsia, pembuluh darah ini tampaknya tidak berkembang dengan baik. Plasenta tersebut lebih sempit daripada pembuluh darah normal dan bereaksi secara berbeda terhadap sinyal hormonal, yang membatasi jumlah darah yang dapat mengalir melalui plasenta.

Beberapa ahli lainnya menduga bahwa kurangnya nutrisi, tingginya kandungan lemak tubuh, faktor keturunan, dan kurangnya aliran darah ke rahim menjadi penyebab terjadinya preeklamsia.


 

Penanganan Tepat

Bila ibu hamil terkena preeklampsia, Anda mungkin perlu beristirahat total di rumah. Tekanan darah dan kondisi janin juga harus dipantau dengan cermat (beberapa kasus preeklampsia diharuskan untuk beristirahat di rumah sakit). Namun, jika preeklampsia muncul ketika usia janin sudah cukup untuk dilahirkan, dokter akan memberikan saran untuk segera bedah sesar untuk melahirkan bayi tersebut. Ini dilakukan, agar preeklampsia tidak berkembang menjadi lebih parah dan merugikan ibu hamil maupun bayi dalam kandungan.


 

Upaya Pencegahan Preeklampsia

Sebenarnya dengan kontrol rutin setiap sebulan sekali, gejala-gejala preeklamsia akan cepat didiagnosis dan ditangani. Dikutip melalui What to Expect When you're Expecting, beberapa penelitian menunjukkan bahwa gizi yang baik dengan asupan anti oksidan, megnesium, vitamin, dan mineral mampu mengurangi risiko preeklampsia. (Seva/HH/Dok. M&B UK)


 



Tags: preeklamsia,   hamil,   kehamilan,   ibu hamil










Cover Mei-Juni-Juli 2020