Mother&Baby Indonesia
Mikrotia pada Si Kecil

Mikrotia pada Si Kecil

Anda pasti merasa sedih ketika melihat daun telinga Si Kecil tidak berkembang seperti seharusnya. Jangan putus asa, Moms. Kelainan telinga yang kerap disebut mikrotia ini dapat diperbaiki ketika Si Kecil beranjak besar.

 

Mikrotia merupakan kelainan bawaan pada telinga bagian eksternal dan tengah. Bayi dengan mikrotia akan mengalami susunan yang tidak teratur pada sisa-sisa tulang rawan yang melekat di jaringan lunak pada lobulus telinga. Akibatnya, terjadi ketidaktepatan posisi telinga. Karena berhubungan dengan saluran telinga luar dan tengah, ada kemungkinan bayi akan mengalami gangguan pendengaran.



 

“Secara global, kasus mikrotia terjadi setiap 5.000-7.000 kelahiran dan ini tergantung pada setiap negara dan ras. Meski begitu, ras Asia disebut-sebut lebih sering mengalami mikrotia dibandingkan dengan ras lainnya,” ujar dr. Ferryan Sofyan, Sp.THT-KL, dari RSIA Stella Maris, Medan. Jika anak Anda mengalami mikrotia, maka beberapa langkah ini perlu Anda lakukan.

 

Deteksi Sejak Dini
Dokter Ferryan menuturkan bahwa mikrotia dialami sejak bayi berada dalam kandungan, khususnya di trimester pertama. Kondisi tersebut dapat dideteksi dengan cara memeriksakan kondisi jani menggunakan USG.



 

Apa yang Harus Dilakukan?
Sayangnya, walaupun Si Kecil sudah terdeteksi mengalami mikrotia ketika dalam kandungan, tidak ada yang dapat dilakukan. Dokter baru bisa memberikan penanganan ketika ia sudah dilahirkan. “Meski 90 persen anak dengan mikrotia memiliki pendengaran yang normal, sebagai upaya penanganan awal, perlu dipastikan apakah Si Kecil memiliki gangguan pendengaran atau tidak. Caranya dengan melakukan berbagai pemeriksaan pendengaran secara lengkap,” ujar dr. Ferryan.

 

Ingin mengetahui informasi mikrotia lebih lanjut? Baca majalah Mother&Baby edisi Februari 2017! (AS/Seva/TW/Dok. M&B UK)



Tags: mikrotia,   bayi,   kesehatan,   telinga,   pendengaran,   anak








Cover Maret 2020