Mother&Baby Indonesia
Cara Usir Trauma Melahirkan

Cara Usir Trauma Melahirkan

Pengalaman melahirkan yang tidak mengenakkan adalah salah satu penyebab para ibu menjadi takut dan trauma melahirkan. Sebenarnya trauma yang Anda rasakan itu dapat diminimalisir. Selain menyiapkan diri dengan baik, Anda juga perlu berdiskusi dengan ahli supaya dapat menghadapinya.

M&B berhasil merangkum beberapa curhatan pembaca mengenai alasan mereka takut melahirkan, beserta kiat mengatasinya dari dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG dari Rumah Sakit Ibu & Anak Asih. Semoga dapat membantu mengurangi trauma yang Anda rasakan!


Baca juga: Ketahui Berbagai Hal yang Terjadi Selama Persalinan




Proses Menyakitkan

“Janin saya meninggal di dalam rahim dan untuk melahirkannya membutuhkan waktu yang lama sekaligus menyakitkan. Dokter memberikan obat untuk merangsang pembukaan. Namun, hingga 2 hari sama sekali tidak ada perkembangan. Akhirnya, dokter mengambil tindakan induksi infus yang sakitnya luar biasa. Sebulan kemudian saya hamil kembali dan saya melahirkan lewat proses normal dan juga diinduksi infus. Rasa sakit induksi kedua ini melebihi yang saya rasakan sebelumnya, sehingga membuat saya trauma melahirkan lagi.” Tantik Veronica, 35.

Jawab:
“Nyeri persalinan sifatnya subjektif dan berbeda pada masing-masing orang tergantung dari ambang rangsang terhadap rasa nyeri. Trauma akibat persalinan sebelumnya secara psikis dapat memengaruhi ketakutan terhadap persalinan yang akan datang. Dukungan dari keluarga terutama suami termasuk persiapan psikis sangat penting dalam menghadapi nyeri persalinan. Sementara dari segi medis, mengurangi nyeri selama persalinan dapat dibantu dengan anestesi yang biasa dikenal dengan epidural atau ILA.”


Baca juga: Benarkah Proses Persalinan Normal Itu Sakit?

Jahitan Robek

“Proses bersalin saya normal dan cukup lancar. Saya melahirkan Si Kecil tanpa kendala. Hanya saja, saya harus menahan rasa sakit saat perineum dijahit. Lalu, setelah lewat satu hari melahirkan, saya jadi takut untuk buang air. Saya sampai ingin menangis karena menahan pipis. Saya bahkan tidak BAB sampai seminggu karena takut kalau mengejan jahitan akan robek. Apalagi tetangga saya pernah punya pengalaman jahitannya lepas. Lalu, saat dijahit kembali, sakitnya melebihi jahitan pertama.” Winda, 23.

Jawab:
“Waktu penyembuhan luka perineum sama dengan penyembuhan luka pada umumnya yaitu kurang lebih 3 minggu. Karena posisi perineum yang selalu tertutup, penting bagi setiap ibu pasca melahirkan untuk menjaga kebersihan perineum. Konsumsi makanan yang bergizi tanpa pantangan turut membantu pemulihan luka. Selama kebersihan terjaga (rajin mengganti pembalut dan membersihkan dengan cairan antiseptik) dibarengi dengan konsumsi asupan bergizi, pemulihan luka akan berlangsung dengan baik. Jika feses terasa lebih keras, obat-obatan seperti pelunak feces dapat diminum untuk mengurangi tekanan di sekitar perineum.”

Perdarahan Hebat

“Saat melahirkan anak kedua, saya mengalami perdarahan hebat yang baru saya ketahui belakangan terjadi akibat ada sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim sejak persalinan anak pertama. Kejadian ini tidak hanya membuat saya trauma, namun juga suami dan keluarga, khususnya orang tua saya. Tidak mudah bagi mereka melihat saya nyaris 'lewat' tepat di depan mata mereka dengan sebelumnya harus melewati kesakitan yang teramat sangat. Trauma ini masih membekas di ingatan kami semua hingga kini, hampir 5 tahun kemudian.” Vina, 31.

Jawab:
“Perdarahan pasca persalinan dapat disebabkan oleh kontraksi yang kurang, robekan jalan lahir, sisa plasenta dan kelainan pembekuan darah. Hal yang dapat diketahui oleh pasien sedari awal adalah kelainan pembekuan darah. Pastikan setelah melahirkan perut bawah terasa keras seperti batu (menandakan kontraksi rahim baik). Robekan jalan lahir berhubungan erat dengan cara mengejan yang baik dan berat bayi yang tidak terlalu besar. Penilaian sisa plasenta dilihat melalui observasi yang ketat 2 jam pasca persalinan yang dapat dilihat dari tekanan darah dan frekuensi nadi yang normal.”




Kelahiran Prematur

“Pengalaman  yang membuat trauma untuk melahirkan lagi adalah pecah ketuban dini sehingga harus melahirkan lebih awal. Saya melahirkan di usia kehamilan 35 minggu dengan BB bayi 1800 gram dan dirawat di inkubator selama 3 minggu. Saat hamil, kekentalan darah saya tinggi dan dokter memberikan obat pengencer darah pada kehamilan minggu ke-36. Di kehamilan 33 minggu, saya mengalami hydromniom atau kelebihan air ketuban. Pecah ketuban terjadi saat usia 34 minggu dan diminta untuk bertahan sekitar seminggu agar berat janin bertambah. Karena ketuban hampir habis, akhirnya saya menjalani operasi caesar. Sejak saat itu saya menjadi takut jika hamil dan melahirkan lagi anak saya akan terlahir prematur lagi.” Prabawati Suryaningrum, 32.

Jawab:
“Pecah ketuban dini paling sering disebabkan oleh infeksi yang terjadi selama kehamilan. Sumber infeksinya bisa bermacam-macam dari mulai keputihan, infeksi  telinga, gigi, pernapasan, saluran kemih, dan lain-lain. Penanganan infeksi dini selama kehamilan mengurangi kejadian pecah ketuban dini di kemudian hari. Namun pada kasus Anda, penyebab pecah ketuban karena overdistensi dari rahim yang dikarenakan cairan ketuban berlebihan. Overdistensi selain dari hidramnion atau air ketuban berlebihan sering juga terjadi pada bayi besar dan kehamilan kembar.”


Baca juga: Bagaimana Jika Saya Melahirkan Bayi Prematur?

Perdarahan dan Hipertensi

“Dua kali menjalai proses kelahiran yang tidak begitu lancar. Pada persalinan pertama saya mengalami perdarahan dan tekanan darah tinggi. Kemudian pada persalinan anak kedua, luka bekas operasi Caesar pertama belum sepenuhnya kering. Setelah melahirkan anak kedua saya hampir tidak sadarkan diri karena asma. Karena alasan ini saya tidak mau melahirkan kembali, padahal ingin punya anak perempuan.” Kurniaty Tirtasari Gultom, 40.

Jawab:
“Penyakit dalam kehamilan seperti tekanan darah tinggi, diabetes ataupun asma dapat menyerang setiap ibu hamil terutama yang sudah memiliki faktor risiko. Dengan pantauan ketat dari trimester awal, ditambah pola makan yang baik dan konsumsi obat-obatan yang diperlukan di awal kehamilan akan menghasilkan luaran bayi dan ibu yang baik pula. Untuk itu, penting bagi setiap ibu hamil untuk ikut mengetahui tekanan darah, kenaikan berat badan, dan hasil laboratorium yang tidak normal setiap kali diperiksakan. Dengan begitu, jika ada intervensi baik pengobatan ataupun tindakan dapat dilakukan segera dan tidak terlambat.”

(Meiskhe/HH/dok.M&B UK)



Tags: kehamilan,   persalinan,   trauma,   solusi,   ahli,   keluhan,   takut








Cover Januari - Februari 2020