Mother&Baby Indonesia
7 Langkah Tepat Menyimpan ASI Perah

7 Langkah Tepat Menyimpan ASI Perah

Memberikan ASI pada bayi, memang lebih baik dalam keadaan segar dan langsung dari payudara ibu. Namun, tidak semua ibu dapat memberikannya secara langsung, terutama ibu bekerja. Nah, diperlukan penyimpanan ASI Perah (ASIP) yang tepat agar nutrisi dalam ASIP tidak hilang.

Berikut penyimpanan sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia:



  1. Pastikan Anda mencuci tangan dengan bersih sebelum memerah ASI maupun menyimpannya.

  2. Wadah penyimpanan harus dipastikan bersih. Anda dapat menggunakan botol kaca atau kontainer plastik dengan tutup yang rapat dengan bahan bebas bisphenol A (BPA). Hindari pemakaian kantong plastik biasa maupun botol susu disposable karena wadah-wadah ini mudah bocor dan terkontaminasi. Kontainer harus dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum dipakai.

  3. Simpanlah ASI sesuai dengan kebutuhan bayi.

  4. Pastikan bahwa pada wadah ASI telah diberi label berisi nama, jam dan tanggal ASI diperah.

  5. Jangan mencampurkan ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru pada wadah penyimpanan.

  6. Jangan menyimpan sisa ASI yang sudah dikonsumsi untuk pemberian berikutnya.

  7. Putarlah kontainer ASI agar bagian yang mengandung krim pada bagian atas tercampur merata. Dilarang mengocok ASI teralu kencang, karena dapat merusak komponen penting dalam susu

 

Setelah 7 langkah tersebut dilakukan, segera masukan ke dalam kulkas dengan mengikuti beberapa aturan seperti dalam tabel.



 

Langkah menghangatkan ASI Perah setelah dibekukan:

  1. Cek tanggal pada label wadah ASI. Gunakan ASI yang paling dulu disimpan

  2. ASI tidak harus dihangatkan. Beberapa ibu memberikannya dalam keadaan dingin

  3. Untuk ASI beku: pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke dalam bak berisi air dingin. Naikkan suhu air perlahan-lahan hingga mencapai suhu pemberian ASI

  4. Untuk ASI dalam lemari es: Hangatkan wadah ASI dalam bak berisi air hangat atau air dalam panci yang telah dipanaskan selama beberapa menit. Jangan menghangatkan ASI dengan api kompor secara langsung.

  5. Jangan menaruh wadah dalam microwave. Microwave tidak dapat memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI dan membentuk bagian panas yang melukai bayi. Botol juga dapat pecah bila dimasukkan ke dalam microwave dalam waktu lama.

  6. Goyangkan botol ASI dan teteskan pada pergelangan tangan terlebih dahulu untuk mengecek apakah suhu sudah hangat.

  7. Berikan ASI yang dihangatkan dalam waktu 24 jam. Jangan membekukan ulang ASI yang sudah dihangatkan. (Seva Dwinovrida/TW/Dok. Freepik)



Tags: asi,   asip,   laktasi,   menyusui,   busui,   anak,   bayi










Cover April 2020