Mother&Baby Indonesia
10 Mitos tentang Vaksinasi (Bagian 1)

10 Mitos tentang Vaksinasi (Bagian 1)

Vaksinasi khususnya untuk anak-anak termasuk hal penting untuk dilakukan para orang tua. Namun sayangnya, beberapa tahun terakhir jumlah orang tua yang memilih untuk tidak memvaksinasi anak mereka terus meningkat. Mereka khawatir tentang keamanan dari vaksinasi itu sendiri atau telah mendengar bahwa terdapat alternatif lain yang sama efektifnya, seperti pengobatan homeopati.

 

Namun, beberapa mitos tentang vaksinasi tidak sepenuhnya benar. Dr Emma Scott pun membantu menyampaikan kebenaran di balik semua mitos tersebut.



Mitos 1: Vaksinasi menyebabkan autisme

Mitos ini  muncul di tahun 90an ketika sebuah penelitian menunjukkan hubungan antara autisme dan vaksinasi MMR. Namun faktanya, penelitian ini tidak benar dengan tambahan pernyataan dari berbagai pihak yang menyangkal kaitan kedua hal tersebut. Pada akhirnya, dokter yang meneliti hal tersebut kehilangan surat izin medisnya.

 

Meski penyebab autisme masih belum diketahui hingga saat ini, tetapi autisme sendiri akan sangat berhubungan dengan masa kehamilan, jauh sebelum dikaitkan dengan vaksin MMR.


Mitos 2: Kekebalan tubuh akan meningkat jika sakit dahulu.

Vaksin memang sudah diciptakan dan disebarkan sejak lama dengan tujuan mencegah berbagai penyakit. Namun banyak orang tidak benar-benar mengerti seberapa serius dampak jika tidak menerima vaksin.

 

Hal ini terbukti dari kasus infeksi campak yang menewaskan 134.200 orang di seluruh dunia pada 2015. Sebagian besar terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan kebanyakan menjadi korban karena tidak menerima vaksinasi. Karenanya, pemberian vaksin pada anak akan jauh lebih aman dibandingkan melihat mereka terinfeksi.


 



Mitos 3: Vaksinasi tidak diperlukan - orang sekarang lebih sehat sehingga sistem kekebalan tubuh mereka lebih kuat

Standar hidup dan kesehatan penduduk dunia selama 100 tahun terakhir memang telah meningkat secara signifikan. Kemungkinan kasus kematian akibat penyakit menular juga berkurang. Namun, krkrbalan tubuh bisa menurun dan membuat tubuh kita terpapar suatu penyakit atau infeksi tertentu.

 

Untuk itu, menjadi sehat secara umum bukan solusi untuk mencegah Anda terpapar suatu penyakit. Vaksinasi adalah cara teraman dan paling efektif untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit.


 

Mitos 4: Vaksinasi membebani sistem kekebalan bayi

Sistem kekebalan tubuh bayi sudah cukup baik dalam menerima vaksin, bahkan sejak mereka berusia 2 bulan.hal ini dapat meningkatkan respons terhadap bakteri dan virus yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian vaksi secara bersamaan pada tubuh bayi diperbolehkan secar amedis, bahkan hal in idapat mengurangi jumlah suntikan yang diberikan pada bayi.

 

Mitos 5: Menyusui melindungi dari infeksi sehingga bayi tidak memerlukan vaksinasi

Saat menyusui, bayi akan mendapatkan antibodi dari ASI yang menjadi asupannya saat itu. Namun, hal ini hanya bertahan hingga usia 4 bulan. Setelah itu, kekebalan tubuh harus ditambah dengan pemberian vaksin pada anak untuk mencegah penyakit seperti batuk rejan atau influenza. (Vonia Lucky/TW/Dok. Freepik)



Tags: kesehatan,   vaksinasi,   mitos,   fakta










Cover Mei-Juni-Juli 2020