Mother&Baby Indonesia
6 Fakta Difteri yang Perlu Diwaspadai

6 Fakta Difteri yang Perlu Diwaspadai

Wabah difteri yang semakin menyebar belakangan ini sangat meresahkan masyarakat. Khusus bagi para orang tua, ada beberapa hal yang perlu diketahui agar lebih waspada terhadap infeksi yang cukup berbahaya bagi Si Kecil. Enam fakta ini bisa dijadikan referensi untuk Anda demi menjaga kesehatan anak dan keluarga.

 

1. Apa itu Difteri?
Difteri adalah infeksi menular akibat Corynebacterium Diphtheriae, yang mudah tersebar melalui batuk atau bersin. Bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung dan saraf, hingga menyebabkan kematian. Difteri bisa menyerang bayi dan anak-anak, terutama balita dan anak usia sekolah, serta remaja.



 

2. Penyebab Infeksi
Hal yang menjadi penyebabnya adalah penderita tidak menerima imunisasi atau vaksin difteri yang berbeda dengan imunisasi DPT pada umumnya. Vaksin difteri memiliki kandungan yang berbeda untuk setiap usia pertumbuhan anak. Untuk itu, pemberian vaksin harus terus diberikan seiring anak bertambah dewasa. Imunisasi atau vaksin ini pun harus diterima ulang setiap 10 tahun.

Infeksi ini juga bisa dipicu oleh hal lain seperti:

  • Lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat.
  • Memiliki gangguan sistem imun.
  • Memiliki sistem imun lemah.

 

3. Gejala Difteri
Menurut Kemenkes, difteri bisa terdeteksi dengan beberapa gejala antara lain:

-Demam dengan suhu 38 Celsius.
-Munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan akan berdarah saat terkelupas.
-Sakit saat menelan dan kadang di sertai pembesaran kelenjar getah bening leher.
-Pembengkakan juga terjadi pada jaringan lunak leher yang disebut bullneck.
-Sesak napas dan suara seperti 'ngorok.'



 

4. Akibat Terkena Difteri
Infeksi difteri dapat menyebabkan penderitanya mengalami komplikasi dengan tingan yang berbahaya jika kondisi semakin memburuk. Jika tidak cepat ditangani, maka penderita akan mengalami:

  • tertutupnya saluran napas oleh selaput
  • kerusakan pada otot jantung (miokarditis)
  • kerusakan pada saraf (polineuropati)
  • kelumpuhan
  • infeksi paru (gagal napas atau pneumonia)

Hal terburuk yang bisa terjadi pada penderita difteri adalah kematian. Meski pengobatan telah dilakukan, fakta menyebutkan bahwa 1 dari 10 penderitanya dapat meninggal dunia. Untuk itu, penanganan pun harus dilakukan secara cepat yang selanjutkan akan diberlakukan isolasi bagi penderita infeksi difteri.


5. Penanganan Medis
Jika seseorang didiagnosa menderita difteri, maka ia harus segera menjalani rawat inap dan diberi antibiotik. Seperti dikemukakan di atas bahwa penderita difteri harus diisolasi paling tidak selama dua minggu. Keluarga terdekat seperti ibu, ayah, kakak, adik, dan kerabat lainnya juga patut diperiksa untuk memutus penyebaran bakteri berbahaya ini.

 

6. Mencegah Difteri
Perilaku hidup sehat juga bisa mencegah seseorang agar tidak terinfeksi bakteri difteri tersebut. Beberapa langkah ini diantaranya:

  • Biasakan untuk mencuci tangan setelah menyentuh atau memegang benda dan hal lainnya demi mencegah penyebaran suatu penyakit.
  • Melakukan imunisasi DPT dan beberapa imunisasi dasar lainnya pada setiap tahapan usia untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk difteri.
  • Mengonsumsi makan kaya vitamin dan mineral agar kekebalan atau metabolisme tubuh meningkat.
  • Mengonsumsi makanan dengan kandungan asam lemak. Tidak hanya berperan dalam perkembangan otak, asam lemak juga mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Asam lemak ini bisa didapatkan dari konsumsi produk susu, seperti susu cair atau yogurt setiap hari. (Vonia Lucky/TW/Dok.Freepik)



Tags: kesehatan,   penyakit,   difteri,   infeksi,   penyebab,   pencegahan,   penanganan










Cover Mei-Juni-Juli 2020