Mother&Baby Indonesia
6 Alasan Resolusi Tahun Baru Sering Gagal

6 Alasan Resolusi Tahun Baru Sering Gagal

Anda mungkin salah satu orang yang berpendapat  bahwa 1 Januari adalah tanggal cantik dan waktu yang tepat untuk mulai menjalankan resolusi tahun baru. Dengan sederet resolusi yang telah Anda susun dan rencanakan di tahun sebelumnya, Anda kini dalam kondisi yang penuh semangat untuk mewujudkan niat baik itu. Sayangnya, semangat itu sering tidak bertahan lama. Dalam beberapa bulan saja, resolusi tahun baru pun tinggal kenangan. Kenapa ya banyak orang yang sering gagal dalam menjalankan resolusi?

 



“Kita sangat buruk dalam mengatur tujuan yang masuk akal,” ujar Amy Cuddy, psikolog sosial dari Harvard Business School dan penulis buku Presence. Ketika kita tidak punya tujuan yang masuk akal, tubuh  akan dipenuhi dengan kegelisahan dan kita cenderung menurunkan harga diri. Menurut Amy, ada 4 kesalahan yang membuat resolusi gugur sebelum terwujud, yaitu:

 

1. Dipenuhi Aura Negatif

Menurut Amy, orang sering fokus pada hal yang mereka tidak suka dari diri mereka, atau terlalu fokus pada yang ingin mereka ubah dalam diri mereka. “Ketika Anda melakukan hal ini, maka Anda mengeluarkan emosi negatif. Beberapa emosi negatif memang bisa saja memotivasi, tetapi kebanyakan tidak,” jelasnya.

 

Jadi daripada membuat resolusi “Saya akan berhenti makan junk food” lebih baik katakan “Saya akan makan lebih sehat!” ya, Moms. Dengan begitu, Anda akan tetap termotivasi dan lebih optimis.

 

2. Terlalu Fokus pada Hasil, Bukan Proses

Resolusi ingin rutin berlari 10 kilometer per hari memang bagus, namun bayangkan jika suatu hari Anda hanya mampu berlari 8 kilometer.  Anda merasa gagal? Itulah yang harus dihindari. Resolusi seperti itu hanya akan membuat Anda lelah membandingkan diri sendiri. Dilema antara yang bisa Anda raih dan yang ingin Anda raih. Jadi, jangan terlalu fokus pada hasil, Moms. Nikmati dan hargai prosesnya!
 

3. Resolusi Jiplakan

Jika ada teman yang sukses dengan resolusinya, Anda bisa tiru semangatnya, bukan resolusinya. Menjiplak resolusi hanya membuat Anda khawatir akan gagal atau tidak sesukses teman Anda, Terlebih, jika resolusi itu terasa terlalu besar untuk Anda. Jadi daripada meniru resolusi teman untuk pergi ke gym setiap hari, lebih baik buat resolusi untuk jatuh cinta pada gym. Dua resolusi yang terdengar mirip itu jelas memberikan dampak yang berbeda pada kehidupan Anda, Moms.

 



4. Resolusi Terlalu Besar

Tanyakan diri Anda sendiri, apa sih tujuan awal Anda membuat resolusi? Tentu untuk membuat kehidupan Anda jadi lebih baik, kan? Jika resolusi yang dibuat justru menyiksa Anda maka jelas Anda sudah keluar konsep. Buatlah resolusi yang masuk akal, bukan yang terlalu besar dan agak mustahil. Jadi, hindari membuat resolusi harus naik jabatan 2 kali dalam setahun ya, Moms.

 

5. Awal yang Besar

Demi mendapatkan hasil yang maksimal, Anda kerap membuat resolusi yang besar juga. Padahal, perubahan sekecil apapun tetap butuh proses, tidak ada yang instan. Banyak yang membuat resolusi ingin turun beberapa kilogram dalam setahun, namun ia langsung menyiksa diri dengan diet ketat. Padahal, American Psychological Association (APA) menyarankan untuk memulai resolusi dari hal kecil. Misalnya, mulai mengganti makanan penutup dengan buah atau yogurt rendah lemak atau pergi ke gym 2 kali seminggu.

 

6. Resolusi Sekaligus

Walau resolusi kecil itu lebih efektif, namun bukan berarti Anda perlu melakukan 10 resolusi kecil sekaligus. Menurut APA, sebaiknya Anda mengubah satu kebiasaan buruk dulu. Jadi jika Anda ingin hidup lebih sehat, ubahlah kebiasaan buruk jarang minum air putih dan mulailah minum 8 gelas sehari. (Tiffany/HH/Dok. Pexels)

 

Baca juga:

4 Resolusi Keluarga di Tahun Baru

4 Resolusi Seks 2017
 



Tags: resolusi,   tahun_baru,   motivasi,   gagal,  








Cover Januari - Februari 2020