Mother&Baby Indonesia
Bolehkah Si Kecil Makan Telur Setengah Matang?

Bolehkah Si Kecil Makan Telur Setengah Matang?

Setiap ibu tentu ingin memberikan yang terbaik bagi Si Kecil, terutama soal nutrisi. Anda pun tahu kalau makanan yang terlalu lama dimasak dapat menghilangkan nutrisinya. Mengingat akan hal ini, tentu Moms jadi tidak ingin memasak makanan Si Kecil terlalu matang, ya.

 

Lalu bagaimana dengan masakan telur, Moms? Apakah aman jika Si Kecil mengonsumsi telur setengah matang? Jawabannya: Tidak! Telur mentah atau kurang matang dapat mengandung bakteri Salmonella, yang masuk melalui kulit telur yang retak.



 

Seperti dilansir dari idai.or.id, situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia, balita 4 kali lebih berisiko mengalami gejala keracunan makanan berupa Salmonellosis, dibanding orang dewasa yang mengonsumsi telur setengah matang. Tidak hanya balita, lho, yang berisiko terkena Salmonellosis, ibu hamil dan lansia juga!

 

Gejala Salmonellosis adalah diare berdarah, demam, muntah, dan dehidrasi. Biasanya gejala ini muncul 12-72 jam setelah mengonsumsi makanan yang mengandung Salmonella. Walau infeksi ini menyeramkan, tetapi Salmonellosis dapat membaik dalam waktu 4-7 hari tanpa perlu mengonsumsi antibiotik.

 

Untuk mencegahnya, Moms tidak hanya harus mewaspadai telur mentah, tetapi juga mayones homemade, tiramisu, dan mousse. Beberapa contoh makanan tersebut menggunakan telur mentah yang tidak dimasak, sehingga Salmonella masih hidup di situ. Namun jika produk makanan tersebut memakai telur yang telah dipasteurisasi, maka Moms dan Si Kecil aman mengonsumsinya.

 

Selain risiko Salmonellosis, telur mentah atau setengah matang juga dapat memicu reaksi alergi telur pada anak. Alergi telur biasanya disebabkan oleh protein yang terdapat pada putih telur. Dengan proses memasak hingga matang, maka sebagian protein tersebut akan mati, hingga mengurangi risiko alergi pada anak. 

 



Dokter Cut Nurul Hafifah, Sp.A, dari IDAI, memberikan beberapa tips untuk mencegah Salmonellosis:

  • Hindari membeli telur yang kotor atau retak.

  • Simpan telur di lemari pendingin pada suhu 0-4° C.

  • Cuci tangan dan alat yang bersentuhan dengan telur mentah.

  • Hindari mengonsumsi telur mentah atau setengah matang.

  • Bagian putih dan kuning telur harus dimasak hingga mengeras.

  • Telur harus dimasak hingga mencapai suhu minimal 71°C.

  • Perlu diingat bahwa telur yang dimasak hingga matang tidak berkurang nutrisinya. Saluran cerna anak bahkan lebih mudah mencerna telur yang sudah matang.

  • Telur yang sudah matang harus dikonsumsi segera dan tidak dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari 2 jam untuk menghindari kontaminasi kuman. (Tiffany/OCH/Dok. Freedigitalphotos)



Tags: telur,   sarapan,   kesehatan,   pencernaan,   balita,   salmonella








Cover Maret 2020