Mother&Baby Indonesia
Efek Perceraian Pada Anak

Efek Perceraian Pada Anak

 

Menurut U.S. Census Bureau, hampir 50 persen pasangan yang menikah, memilih untuk bercerai dengan pasangannya. Bahkan 1/3 dari mereka memilih bercerai pada 5 tahun pertama berumah tangga. Meskipun perceraian akan sangat menyakitkan bagi anak-anaknya, namun orangtua masih memilih bercerai sebagai keputusan terbaiknya.

 

Padahal, perceraian akan membuat Si Kecil kehilangan rutinitas bersama yang biasa dilakukan. Tentu saja perceraian juga memberikan efek negatif pada Si Kecil, meskipun saat itu ia masih bayi atau balita.

 

Judith Wallerstein, PhD., seorang psikolog dari California serta penulis dari buku The Unexpected Legacy of Divorce: A 25 Year Landmark Study, mengatakan bahwa Si Kecil akan merasa tidak tenang dan menderita dengan caranya sendiri. Ditambah lagi bila Anda berdebat dengan pasangan, Si Kecil dapat merasa ketakutan, frustasi, bingung, dan tidak aman.

 

“Jika Si Kecil hidupnya dilanda frustasi dan merasa tidak aman, hal itu dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan intelektualnya,” ujar Judith yang dikutip melalui Parents.com.

 

Bila perceraian terjadi saat Si Kecil masih bayi atau balita, dampaknya adalah Si Kecil akan mudah marah tanpa sebab. Anak juga akan lebih sulit makan atau tidur, dan mudah sekali menangis. Balita juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda, seperti menjadi takut gelap atau sendirian. Perceraian juga bisa membuat anak sering marah tanpa bisa dikendalikan.

 

Kondisi psikis anak inilah yang harus diwaspadai orang tua saat hendak bercerai. Jadi jika masih bisa diselesaikan baik-baik, jauhkan ide bercerai dari pikiran Anda ya, Moms. Baca juga artikel 4 Cara Mengurangi Dampak Perceraian Pada Anak. (Seva/TW/Dok. M&B UK)



Tags: divorce,   cerai,   anak,   psikis,   mental,