Mother&Baby Indonesia
Begini Cara Menkes Tangani Gizi Buruk

Begini Cara Menkes Tangani Gizi Buruk

Hati siapa yang tidak sedih melihat balita yang tumbuh kembangnya terganggu karena kekurangan gizi. Salah satu daerah yang anak-anaknya banyak mengalami gizi buruk adalah kabupaten Lebak, Banten. Sungguh miris ya, Moms, mengingat letak Banten tidak begitu jauh dari Jakarta, kota metropolitan yang penuh bangunan mewah.

 



Mendengar hal ini, dengan sigap Pemda Banten merangkul puskesmas, posyandu, dan penyedia layanan kesehatan lainnya untuk mengatasi status gizi buruk ini. Hasilnya luar biasa, dikutip dari Depkes.go.id, pada 2015 masalah gizi balita ini turun 0,7 persen, dan di 2016 turun 0,1 persen dari 135 ribu balita di Lebak.

 

Berita ini pun sampai ke telinga Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek, yang mengapresiasi keberhasilan pemerintah Lebak dalam menangani status gizi buruk. “Penanganan masalah gizi di kabupaten Lebak cukup bagus, sehingga patut menjadi contoh di tanah air,” ujar Menkes saat menemani Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Banten (11/9).

 

Menkes menegaskan, pemerintah terus melakukan intervensi penanggulangan masalah gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan Anak Balita (PMTAB), Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS), dan Pemberian Makanan Tambahan Ibu Hamil (PMTIH).

 

Saat ini, PMT yang dibagikan berupa biskuit dengan kandungan kalori yang cukup tinggi, sehingga orangtua dapat menjaga gizi anak-anaknya. “Kami minta anak-anak sekolah, bayi, juga ibu hamil, agar mengonsumsi biskuit itu sehingga memiliki gizi yang baik,” saran Menkes.

 

Namun Menkes juga menghimbau untuk mengonsumsi biskuit PMT sesuai anjuran, yaitu:

  • Bayi 6-11 bulan: 6 keping PMT per hari, selama 1 bulan.



  • Anak 12-59 bulan: 12 keping PMT per hari, selama 1 bulan.

  • Anak usia sekolah: 6 keping PMT, per hari, hingga berat badan sesuai dengan usia.

  • Wanita hamil trimester 1: 2 keping PMT per hari.

  • Wanita hamil trimester 2 dan 3: 3 keping PMT per hari.

 

Namun perlu diingat, pemberian PMTIH hanya dilakukan sampai ibu hamil tidak mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) saja. Hal itu disesuaikan dengan pemeriksaan lingkar lengan atas.

 

Menkes juga meminta pemerintah daerah untuk terus melakukan intervensi, yaitu melalui program PMT agar anak-anak tidak mengalami kekurangan gizi. Namun manfaat PMT tidak hanya itu, lho, karena PMT juga turut membantu menekan angka kematian ibu dan bayi.

 

“Kami berharap ke depan Balita yang mengalami masalah gizi itu bisa meningkatkan status gizinya sehingga menjadi anak-anak yang sehat dan berkualitas,” ujar Menkes. (Tiffany/OCH/Dok. Depkes.go.id)



Tags: kesehatan,   gizi,   balita,  










Cover Mei-Juni-Juli 2020