Mother&Baby Indonesia
Bayi Zika tidak Selalu Mikrosefali

Bayi Zika tidak Selalu Mikrosefali

Selama ini, virus Zika berkaitan erat dengan mikrosefali, gangguan sistem saraf yang membuat kepala bayi menjadi kecil dan tidak berkembang sempurna. Penyebar virus Zika adalah nyamuk Aedes aegypti. Jika ibu hamil trimester pertama terkena virus Zika, maka janinnya bisa mengalami mikrosefali.

 

Walau kasus mikrosefali itu sering terjadi, namun ternyata tidak selalu demikian. Micaela Bolivar, seorang bayi berusia 2 bulan yang positif terjangkit virus Zika, tidak mengalami mikrosefali. Namun, ia tetap mengalami efek lain dari virus tersebut, seperti pengapuran di otaknya.



 

Dampak lain dari virus Zika adalah konjungtivitis atau mata merah. “Untungnya, retina Micaela hanya sedikit berbeda dari retina normal pada umumnya,” ujar Doktor Audina Berrocal, ahli retina anak di Bascom Palmer Eye Institute, University of Miami Miller, seperti dikutip dari local10.com.

 



Ibu Micaela, Maria Ramirez Bolivar, terjangkit virus Zika ketika berlibur di Venezuela saat akhir trimester pertamanya. Mulai ada ruam di tubuhnya, diikuti oleh mata merah dan sakit perut. “Kami kira ini karena cuaca yang terlalu panas,” ucap Maria, yang sudah memiliki seorang putri dan 2 putra kembar.

 

Maria bersyukur putrinya tidak mengalami kelainan yang lebih buruk dan menghimbau para ibu untuk menghindari area yang terdeteksi adanya virus Zika. (Nadia/TW/Dok. Local10.com)



Tags: virus,   zika,   janin,   bayi,   hamil,   mikrosefali