Mother&Baby Indonesia
Mengenal Gejala, Penyebab, dan Pengobatan ADHD

Mengenal Gejala, Penyebab, dan Pengobatan ADHD

 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah perilaku menyimpang anak yang memiliki perhatian pendek, energi besar, dan sensitif terhadap rangsangan. Ketiga ciri itu menjadikan anak dengan ADHD sulit berkonsentrasi pada 1 tugas atau aktivitas saja, sehingga kerap berpindah dan merasa harus terus bergerak. Bahkan, saat ia duduk, kaki atau tangannya kerap bergoyang, karena gelisah.

 



Apakah kondisi itu mengganggu Si Kecil? Tentu saja, para ahli mengatakan bahwa mereka pun merasa kesulitan. Sayangnya, gejala ADHD seringkali terkesan wajar, seperti gelisah saat tidur atau sangat aktif di sekolah dan di rumah. Padahal, bukan tidak mungkin untuk mendiagnosa ADHD pada anak di bawah 4 tahun. Dan penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu penderitanya.

 

Terdapat 2 jenis ADHD yang sudah diidentifikasi oleh pada ahli, yaitu inattentive ADHD, hyperactive-impulsive ADHD, dan gabungan dari kedua ADHD tersebut.

 

Ciri-ciri Inattentive ADHD:
- Sulit untuk memberikan perhatian.
- Sulit untuk mendengar perintah.
- Tidak mematuhi petunjuk yang diajukan.
- Memiliki kesulitan memahami informasi dengan cepat dan akurat.

 

Ciri-ciri hyperactive-impulsive ADHD:
- Memiliki kesulitan bermain dengan tenang.
- Selalu berjalan-jalan sambil bermain.
- Berbicara dengan cepat dan banyak.
- Tidak bisa berpikir.
- Selalu memberi jawaban walaupun belum selesai bertanya.
- Tidak bisa mengontrol emosi.

 

Jika Si Kecil memiliki tanda-tanda di atas, Anda tidak perlu khawatir. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak untuk mengatasi hal tersebut. Dilaporkan, ADHD lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, dengan perilaku yang dapat berbeda. Misalnya, anak laki-laki mungkin lebih hiperaktif dan anak perempuan cenderung diam-diam lalai.

 

 

PENYEBAB

Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan ADHD? Para peneliti mengatakan ADHD sebagian besar genetik: Beberapa studi menunjukkan bahwa jika seorang anak memiliki ADHD, kemungkinan saudara memiliki itu adalah 20 hingga 25 persen. Orang dengan ADHD diperkirakan telah mewarisi ketidakmampuan fisik untuk mengatur kadar kimia otak seperti dopamin dan norepinefrin. Dan, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan ADHD memiliki kadar 3 sampai 4 persen lebih banyak di semua area otak dibanding anak-anak tanpa ADHD.

 

Dikutip melalui Babycenter.com, penelitian telah menemukan bahwa bahan pengawet dan pewarna buatan dalam makanan meningkatkan hiperaktif pada anak-anak. Rokok dan alkohol juga merupakan salah satu faktor yang berkontribusi.



 

 

PENGOBATAN

Bagaimana ya pengobatannya? Ada tiga pilihan: terapi keluarga, terapi perilaku, dan obat-obatan. Kebanyakan ahli medis merasa bahwa keluarga dan terapi perilaku cukup untuk mengobati ADHD pada anak-anak prasekolah.

 

Terapi Keluarga

Terkadang ini disebut pelatihan orangtua, adalah salah satu cara terbaik untuk menangani ADHD. Ini akan membantu Anda belajar bagaimana menangani frustrasi Anda sendiri dengan perilaku anak Anda, bagaimana orang tua secara konsisten dan positif, dan bagaimana untuk menyesuaikan harapan Anda.

 

Terapi Perilaku

Dalam terapi ini, orang tua serta perawat penderita ADHD akan dilatih untuk menyusun strategi guna membantu anak dalam berperilaku sehari-hari dan mengatasi situasi yang sulit. Misalnya dengan menerapkan sistem pujian untuk menyemangati anak.

 

Obat-obatan

Beberapa penelitian memang tidak merekomendasikan untuk mengonsumsi obat-obatan bagi anak ADHD. Sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. (Seva/TW/Dok. M&B UK)

 



Tags: adhd,   anak,   hiperaktif,  








Cover Januari - Februari 2020