Mother&Baby Indonesia
Cathy Sharon Tanamkan Cinta Lingkungan Pada Anaknya

Cathy Sharon Tanamkan Cinta Lingkungan Pada Anaknya

Bagi Cathy Sharon, menanamkan kecintaan pada lingkungan dimulai dengan mengajarkan kedua anaknya, Jacob, 3, dan Carla, 1, untuk membuang sampah pada tempatnya. Menurut perempuan kelahiran 8 Oktober 1982 ini, saat anak mulai bisa berjalan, mereka sudah diajarkan kebiasaan baik tersebut. "Meletakkan sampah pada tempatnya itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak yang baru belajar berjalan, sekaligus membangun kebiasaan yang positif sejak dini," terang Cathy, saat ditemui di acara Hello Nature 2016 di Bumi Perkemahan Ragunan, Cilandak, Jakarta (27/11). 

 

Karena sudah dibiasakan sejak kecil, ketika ada orang yang membuang sampah sembarangan, anaknya, Jacob, bisa menegur orang tersebut. “Sampahnya nggak boleh dibuang sembarangan. Tetapi harus dimasukkan ke tempat sampah,” kata Cathy menirukan ucapan Jacob.



 

Selain membuang sampah pada tempatnya, kecintaan terhadap alam dan lingkungan ditanamkan dengan mengajak anak-anaknya bermain di luar ruang dan kebun. Saat senggang, Cathy kerap membiarkan anak-anaknya bermain di halaman rumah mertuanya yang cukup luas. “Saya paling suka anak-anak bermain di rumput atau pasir. Mereka saya biarkan nyeker saja,” ujarnya.

 



Tak hanya itu, saat berkunjung ke perkebunan mertuanya di Lembang, Cathy yang juga sedang berbisnis kale, akan mengajak Jacob untuk jalan-jalan menggunakan sepatu bot. Di kebun, Jacob bisa membantu petani dan mencabut brokoli. Dan ia senang melakukan hal itu. 

 

Sementara di waktu libur, Cathy akan membawa buah hatinya ke daerah-daerah di Indonesia seperti Cirebon, Bali, maupun Palu. Mereka akan diajak naik delman atau becak. Perjalanan berlibur ke daerah ini, juga menjadi upayanya dalam mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada anak-anaknya. Dan hasilnya, Jacob sangat suka dengan wayang dan juga barongsai. (Dee/OCH/Dok. M&B)



Tags: anak,   cinta alam,   cinta lingkungan,   cinta budaya,   cathy sharon,   kekayaan budaya,  










Cover April 2020