Mother&Baby Indonesia
Are You Happily Married To Me?

Are You Happily Married To Me?

Kalau mengenang kisah percintaan dengan suami, saya yakin kebanyakan dari wanita setuju dengan saya bahwa kisahnya tidak akan seseru film-film romantis yang sering kita tonton. Jangankan film romantis, kalau dibandingkan saat pacaran, biasanya berbeda. Saya jadi teringat sewaktu saya dan suami masih pacaran. Ketika itu, saya tinggal di Bogor, sedangkan mantan pacar (alias suami) tinggal di Jakarta. Walaupun jauh, ia selalu mengantar saya pulang ke Bogor setelah saya selesai bekerja, apakah itu event atau bahkan shooting yang bisa kelar tengah malam. Kalau sedang pacaran semua rasanya indah. Haha.

 

Nah, 2 minggu yang lalu, saya dan suami saya baru saja merayakan pernikahan kami yang ke-8, dan seperti tahun-tahun lalu, kami selalu mencari tempat kuliner terbaru untuk dijelajahi bersama. Saat makan malam, saya iseng bertanya kepadanya, “Are you happily married to me?' Sebuah pertanyaan yang sangat simple tapi sangat penting dalam perjalanan berumah tangga.



 

Menjalani 8 tahun pernikahan dan telah dikaruniai 2 anak, perjalanan kami tidak selalu mudah dan mulus. Inginnya sih, semua selalu mulus seperti jalan tol. Tetapi perbedaan kepribadian di antara kami bisa menjadi konflik. Kami datang dari latar belakang keluarga yang berbeda, sudah pasti dengan kebiasaan yang berbeda. One thing for sure, selama 8 tahun ini saya belajar bahwa pernikahan adalah sebuah PR yang terus harus dipelajari dan digali, karena terkadang, kita harus menghadapi tes agar bisa naik ke level berikutnya. Well you can say, it is a never ending process.

 

Dari 8 tahun pernikahan ini, saya mau sedikit sharing apa yang saya pelajari tentang kasih atau LOVE dalam sebuah pernikahan.


1. Love is never a feeling, but a decision you make when you promise to love that person.
Ternyata kata “love” bukan seperti di film-film romantis yang menggambarkan bahwa segala sesuatunya selalu indah. Perasaan berbunga-bunga itu akan hilang, apalagi seiringnya waktu. Kita tidak  bisa mengikuti perasaan untuk mempertahankan pernikahan, because feeling can be deceiving apalagi kalau sedang berantem. Love is commitment.


2. Love come in different season.

Setiap musim dalam pernikahan bisa berubah. Ini bicara mengenai keadaan dalam rumah tangga, di mana terkadang semuanya sangat tentram, tapi ada kalanya harus berhadapan dengan tantangan dari luar yang tidak bisa diprediksi datangnya. Tidak selalu kedua belah pihak selalu dalam kondisi mental yang kuat untuk menerima cobaan. Inilah saatnya, “someone has to step up to the plate” atau yang menjadi lebih kuat ketika pasangan tidak bisa menghadapi tantangan dengan baik. Belajar untuk menjadi tim yang saling menopang satu sama lain.

 

3. Love is compromising



Saya dulu paling sebal sekali kalau melihat suami saya main game sampai berjam-jam, namun saya mendapat tips dari seorang teman untuk ikut main game dibandingkan saya kesal sendiri. Haha. Ternyata cukup menyenangkan, and we can have a good quality time together. If you can’t fight it, get involved!

 

4. Love is managing expectations

Nah, ini nih yang merupakan salah satu hal berharga yang saya pelajari dari sebuah buku. Dulu saya memiliki ekspektasi yang saya buat sendiri mengenai seorang suami yang ada dalam pemikiran ideal saya, tapi sepertinya tidak mudah unutk memenuhi ekspektasi tersebut. Belajar untuk menerima kekurangan dan mengurangi ekspektasi memang susah sekali. Tetapi di saat saya mengurangi ekspektasi, ternyata sangat membantu untuk mengurangi kekecewaan karena ekpektasi yang kita buat sendiri.

 

So far, mungkin itu yang saya bisa bagi dari 8 tahun menjadi seorang pelajar dalam dunia pernikahan, dan menjawab pertanyaan yang saya lontarkan pada suami saya,

 

“Are you happily married to me?”

 

Kami memiliki jawaban yang sama. We are happily married, walaupun keadaan tidak selalu sempurna. I hope we keep learning and growing.



Tags: pernikahan,   imelda_fransisca,   suami_istri










Cover April 2020