Mother&Baby Indonesia
Pro dan Kontra Lotus Birth

Pro dan Kontra Lotus Birth

Salah satu tren yang sedang marak di dunia persalinan adalah lotus birth. Metode persalinan ini sebenarnya pertama kali dilakukan pada 1974 di California oleh Clair Lotus Day. Langkah-langkahnya sama dengan persalinan normal, hanya saja saat bayi lahir, ari-arinya tidak langsung dipotong. Plasenta beserta tali pusat dibiarkan terhubung dengan Si Bayi hingga mengering alami dan putus dengan sendirinya. Proses putusnya plasenta tersebut umumnya membutuhkan waktu sekitar 3-10 hari.

 



Plasenta biasanya disimpan di sebuah kantong kain atau bantal, agar lebih mudah dipindahkan mengikuti pergerakan bayi. Agar plasenta tidak mengeluarkan bau kurang sedap, ada yang membalurnya dengan garam supaya plasenta lebih cepat kering. Menurut para pendukung lotus birth, tindakan membiarkan tali pusat terhubung dengan bayi akan mengalirkan darah yang kaya oksigen dan zat besi kepadanya. Mereka juga menyatakan, tindakan memotong ari-ari akan menghilangkan sekitar 60 ml pasokan darah kepada bayi dan membuat berat badannya menurun setelah dilahirkan.



 

Namun ada pula yang menentang metode persalinan ini, salah satunya The Royal College of Obstetricians and Gynaecologists dari Inggris. Menurut mereka, bayi justru berpotensi terkena infeksi dari darah pada plasenta. Hilda Hutcherson, dosen ginekologi dan obstetri dari Columbia University pun tidak melihat manfaat dari lotus birth. "Ada sebuah penelitian yang memang telah membuktikan manfaat menunda memotong ari-ari selama 3 menit agar bayi dapat menerima kadar zat besi lebih tinggi. Namun membiarkan plasenta terhubung dengan bayi lebih lama belum terbukti manfaatnya secara ilmiah, karena tidak bisa lagi memberikan nutrisi baginya," kata Hiilda. (Theresia Widiningtyas/DC/Dok. Treehugger.com)



Tags: lotus_birth,   metode_persalinan,   melahirkan