Mother&Baby Indonesia
Kebutuhan Cairan Bayi ketika Diare

Kebutuhan Cairan Bayi ketika Diare

Diare dapat menyebabkan hipovolemia, yaitu kekurangan cairan ekstraseluler (cairan yang berada di luar sel-sel tubuh). Pada tahap awal, gejala hipovolemia adalah anak tampak lemah, lelah, dan seringkali mata tampak cekung dengan kulit sekitarnya berwarna gelap. Gejala hipovolemia lebih lanjut (hipovolemia ringan-sedang) adalah kehilangan selera makan, berkurangnya jumlah urin, dan penurunan tekanan darah.


Pada kasus diare tanpa gejala hipovolemia, bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif, sebaiknya diberikan ASI dalam jumlah yang lebih banyak dan intensitas yang lebih sering, serta tambahkan dengan oralit atau air matang. Bagi bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, beri susu yang biasa diminum ditambahkan dengan oralit. Pada anak usia di bawah 1 tahun, berikan air oralit sebanyak 50-100 ml setiap kali diare, dan untuk anak berusia di atas 1 tahun, berikan air oralit 100 – 200 ml setiap kali diare.


Pada diare dengan gejala hipovolemia ringan-sedang, jumlah air oralit yang diberikan dalam tiga jam pertama diare adalah sebanyak 74 ml dikalikan dengan berat badan anak. Jumlah oralit tidak perlu dibatasi bila anak menginginkan lebih banyak. Teruskanlah untuk memberikan ASI. Untuk bayi di bawah usia 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI, berikan juga 100-200 ml air. Untuk bayi di atas usia 6 bulan, tunda pemberian makan selama 3 jam, kecuali ASI dan oralit. Setelah 3-4 jam, nilai kembali keadaan anak, bila tidak ada gejala hipovolemia, lakukan pemberian cairan seperti aturan pada diare tanpa gejala hipovolemia.





(OCH/ Dok. M&B UK)



Tags: bayi,   diare,   kebutuhan_air










Cover Mei-Juni-Juli 2020