Mother&Baby Indonesia
Emily, Book of Life

Emily, Book of Life

Sebagai seorang ibu, saya juga seorang perempuan yang memiliki segudang impian dan  keinginan dalam hidup. Kalau saya sedang sendiri melihat masa depan, rasanya saya ingin menjadi seseorang yang bisa mengeluarkan segala potensi yang dipercayakan oleh Tuhan.

 

Jujur, dari sewaktu masih duduk di bangku sekolah, saya memiliki passion yang begitu luar biasa ingin menjadi seperti Oprah. Hehe. Pasti banyak, deh, perempuan yang ingin menjadi Oprah. Ia adalah salah 1 wanita paling berpengaruh, bukan saja di Amerika tetapi hampir di seluruh dunia. Ia pintar, memiliki pengaruh yang luar biasa melalui acara yang dipandunya. Oprah membentuk dan mendidik pemikiran para penontonnya, dan yang paling keren adalah ia begitu menginspirasi para penontonnya. Dan sudah pasti, ia salah satu orang terkaya di dunia.



 

Di masa awal saya menjadi seorang ibu, lebih tepatnya di tahun pertama saya memiliki putri saya Emily, setiap hari yang saya lakukan adalah hanya mengganti popok, menyusui, memompa ASI, menimang anak, dan seterusnya. Saya sempat termenung dan berpikir,
"Apakah kehidupan saya dan segala mimpi saya berhenti di sini?"
"Apakah saya hanya akan menjadi seorang ibu pada umumnya dan berhenti untuk menggapai impian besar yang terpendam?" 

 

Saya begitu meremehkan peranan seorang ibu. Yang ada dalam benak saya, kesuksesan hanya ketika saya bisa membuktikan kepada orang bahwa saya dapat mendapatkan impian saya. Penjelasan saya yang paling hebat adalah, saya ingin membuktikan kepada anak saya bahwa mimpi itu bisa dikejar dan digapai. Saya tidak ingin dipandang sebelah mata oleh anak-anak saya saat mereka besar nanti.

 

Kayanya keren juga yah penjelasannya, sounds so righteous!
 

Sampai satu ketika, saya sedang berdiskusi dnegan seseorang tentang peranan seorang ibu. Kembail saya menceritakan 'penjelasan righteous' yang ampuh mengenai pemikiran saya tentang peran saya sebagai seorang ibu.
 



Lalu ia bertanya, "Imel, apakah ibu kamu orang hebat?"
Lalu saya langsung jawab, "Iya."
Ia bertanya kembali, "Apakah ia sangat sukses dalam kariernya?"
Lalu saya kembali menjawab, "Enggak tuh."
Ia kembali bertanya, "Lalu kenapa kamu bilang ibu kamu hebat?"
Lalu saya termenung sejenak. Di situ saya baru sadar bahwa ibu saya mungkin bukan seseorang yang hebat dalam berkarier dan terkenal, namun beliau selalu ada untuk mendukung saya, membimbing saya, dan menananmkan nilai-nilai yang baik akan kehidupan. Hal yang paling saya hargai dari ibu saya adalah bagaimana beliau mengajarkan saya untuk menghormati diri sendiri sebagai seorang perempuan dan kerendahan hati. Beliau juga yang mengajarkan saya bahwa perempuan harus memiliki otak yang cerdas dan tegar menghadapi cobaan hidup.
 

Lalu lawan bicara saya mengatakan, "Bukan seberapa sukses kamu, Mel, untuk membuat kamu dihormati anak-anakmu, tetapi seberapa banyak kamu menginvestasikan dirimu untuk anak-anakmu."
 

"Duaarrr!!!!!!" Saat itu saya langsung berasa seperti orang yang tersamber petir!
 

Saya mulai sadar, bahwa saya boleh saja memiliki impian untuk dapat meninspirasi banyak orang, tapi saya harus tahu bahwa orang pertama yang harus bisa saya inspirasi setiap hari adalah anak saya. Begitu banyak hal yang harus saya investasikan kepadanya. Karena ia akan menjadi contoh hidup ketika ia tumbuh dewasa. A living proof.
 

Important lesson learnt!

 

(Imelda Fransisca/dok.pribadi)



Tags: ibu,   living_proof,   anak,   inspirasi










Cover April 2020