Mother&Baby Indonesia
Double Trouble

Double Trouble

Saya baru saja bergabung dalam klub Ibu Beranak Dua. Pertanyaan yang seringkali diajukan sejauh ini adalah, “Seperti apa rasanya ada dua anak di rumah, dan apa perbedaan antara yang pertama dan kedua?” Demikian penjabaran dari pertanyaan tersebut:

 

1. Penyambutan
Anak Pertama: Saat kelahiran anak pertama, rasanya semua kenalan kami ikut merayakan seakan-akan bayi saya adalah bayi pertama yang lahir di dunia. Kami dihujani hadiah dan perhatian oleh keluarga, teman-teman, teman keluarga, teman dari teman, dan bahkan orang tak dikenal. Di RS, pengunjung sampai mengantri untuk bergantian berdesakan menengok saya dan bayi, dan selama beberapa minggu saya tidak perlu menyiapkan makan sendiri, saking banyaknya kiriman makanan dari mana-mana.
Anak Kedua: Mmm…pada kemana nih, orang-orang?



 

2. Dokumentasi
Anak Pertama: Proses dokumentasi sudah dimulai dari pertama kali dipastikan saya hamil, semua foto USG dipajang di kulkas, tidak ketinggalan foto 4D, hingga sesudah kehamilan setiap kegiatan sekecil apapun yang dilakukan Si Anak kami update terus perminggunya. Ok ok, lebih tepatnya perhari.
Anak Kedua: Saat hamil kami bahkan tidak ingat di mana menaruh foto-foto USG, dan kami tidak merequest foto 4D (mahal, ah).

 

3. Mengatur Waktu
Anak Pertama: Segenap waktu dapat dicurahkan untuk Si Kecil. Semua perhatian bisa fokus diberikan untuk memastikan kebutuhan Si Kecil senantiasa tercukupi. Acara jalan-jalan diatur sedemikian rupa agar tidak menganggu waktu tidurnya. Kebanyakan teman sudah tidak pernah mengajak pergi karena sering sekali membatalkan rencana untuk mengurusi Si Anak.
Anak Kedua: Kok bisa-bisanya dulu sudah merasa sibuk padahal baru 1 Anak??!! That was nothing compared to this!!!!

 

4. Menyusui
Anak Pertama: Menyetok segala macam suplemen, dan selama 6 bulan pertama menghabiskan supply daun katuk se-Jakarta Selatan karena konon bisa meningkatkan produksi ASI.
Anak Kedua: Makan apa saja yang disuka (karena dalam kasus saya ternyata tanpa suplemen apapun suppy ASI saya tetap bisa berlimpah, puji Tuhan), keep myself happy. Selalu bersyukur, dan tidak usah minder melihat foto-foto freezer ASI milik teman di Facebook. *Hide from timeline*

 

5. Perhatian
Anak Pertama: Di malam hari saat baby menangis langsung mendatanginya dan menggendongnya agar dia tenang dan tahu orangtuanya ada untuknya.
Anak Kedua: Di malam hari saat baby menangis langsung mendatanginya dan menggendongnya agar dia tenang dan tidak ikut membangunkan kakaknya.

 



6. Kesehatan
Anak Pertama: Mengusahakan segala cara agar bebas penyakit. Memberikan asupan terbaik dan menjaga higienitas secara obsesif. Selama 6 bulan pertama tidak pernah sakit apa pun.
Anak Kedua: Saat Si Kakak sakit pilek, hanya bisa pasrah. Dalam bilangan jam Si Adik yang baru berumur 2 minggu juga ikut pilek.

 

7. Baju dan Mainan
Anak Pertama: Alokasi belanja rumah tangga sebagian besar habis untuk membeli berbagai baju lucu dan mainan yang akhirnya hanya dipakai 1-2 bulan atau dimainkan 1-2 kali.
Anak Kedua: Isi lemari terdiri dari baju bekas kakak atau hadiah. Mainan, idem.

 

8. Kedekatan
Anak Pertama: Ingin memeluknya tiap saat. Melihatnya tidur adalah berkah indah dan senang sekali diam berlama-lama melihat wajah mungilnya saat tidur lelap.
Anak Kedua: Ingin memeluknya tiap saat. Melihatnya tidur adalah berkah indah dan senang sekali melihat wajah mungilnya yang kaget terbangun karena si Kakak berteriak-teriak di sampingnya mengajak bermain.

 

9. Keuntungan
Anak Pertama: Diuntungkan karena mendapatkan segenap perhatian saya, yang tidak terbagi dan selalu tersedia. Walaupun terkadang saya tidak tahu apa yang  mesti dilakukan.
Anak Kedua: Diuntungkan karena mendapatkan pengalaman saya. Walaupun terkadang saya terlalu sibuk menjelaskan ke Si Kakak kenapa dia tidak mendapatkan segenap perhatian saya lagi.

 

Two Kids mean:
Double the Madness
Double the Happiness

 



Tags: dua_anak,   cisca_becker










Cover April 2020