Mother&Baby Indonesia
Menghadapi Risiko Pasca-Melahirkan

Menghadapi Risiko Pasca-Melahirkan

Melahirkan merupakan momen indah bagi setiap ibu. Sayangnya, kesehatan ibu pada masa-masa setelah melahirkan kerap luput dari perhatian. Padahal, hal ini cukup krusial dan berpotensi mengganggu kondisi fisik, mental, dan kehidupan sosial ibu. Menurut dr. Ivan Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, Sp.OG, selama kehamilan terjadi banyak perubahan pada diri ibu, dari struktur tubuh, kontur kulit, hormonal, dan lainnya. Karena itu, ada beberapa risiko yang dapat dialami. Apa saja dan bagaimana cara mengatasinya?

 

  • Herpes Gestationes. Ini adalah penyakit kulit yang bisa terjadi saat memasuki masa kehamilan dan bisa bertahan hingga pasca-persalinan. Penyakit ini ditandai dengan keluarnya bintik-bintik merah pada kulit ibu yang baru melahirkan. Cara mengatasi herpes gestationes ini adalah dengan menggunakan salep anti inflamasi untuk menghilangkan bintik yang gatal tersebut.

 



  • Stretchmarks. Pasca-persalinan, stretchmarks umum dijumpai di bagian perut, payudara, paha, dan pinggul. Peningkatan kadar pigmen melanin sering kali menimbulkan rasa gatal di seluruh tubuh terutama bagian perut. Agar stretchmarks tidak membentuk garis kehitaman yang permanen, Anda disarankan untuk tidak menggaruk bagian perut dan cukup mengusap-usap yang gatal saja. Gunakan krim atau gel oles khusus untuk menghilangkan atau mengurangi stretchmarks.

 



  • Hiperpigmentasi. Penumpukan pigmen melanin yang berlebihan atau hiperpegmentasi saat kehamilan dan berlanjut sampai pasca-persalinan dapat disebabkan oleh peningkatan kadar hormon melanocyte stimulating hormon  (MSH). Akibatnya, timbul bercak atau vlek gelap di kulit. Hiperpegmentasi ini dapat dikurangi dengan memakai tabir surya. Hindari pemakaian pemutih kulit berbahan hidrokinon, tretinoin, dan kortison, terlebih jika terpapar matahari langsung usai memakainya.

 

  • Parutan Caesar. Setelah Caesar, biasanya ibu akan mengalami luka parut akibat sayatan di perut saat persalinan. Bekas luka parut ini tak boleh dianggap remeh karena jika tak ditangani dengan tepat, parutan ini dapat berubah menjadi keloid yang tebal. Tak hanya mengganggu penampilan, keloid yang membesar dan melebar dapat membahayakan kesehatan kulit ibu. Karena itu, Anda tidak boleh menggaruknya, menghindari gesekan pada luka, mengoleskan gel khusus secara teratur, dan selalu menjaga kelembapan kulit dengan minum air putih lebih banyak dari biasanya.

 

  • Rambut rontok. Umumnya, antara 3-6 bulan setelah melahirkan, Anda akan mendapati jumlah rambut yang rontok bertambah, Moms. Hal ini disebabkan karena kadar progresteron yang bertumbuh dan berpengaruh pada kondisi kesehatan rambut. Nah, proses persalinan akan membuat lebih banyak jumlah rambut yang memasuki fase istirahat. Kerontokan dapat diatasi dengan perawatan kulit kepala yang teratur. (Lydia Natasha/DC/Dok. M&B)



Tags: pasca_melahirkan,   melahirkan,   bersalin,   persalinan,   risiko,   risiko_persalinan,   risiko_pasca_persalin










Cover April 2020