Mother&Baby Indonesia
Sunat Lebih Berisiko jika Dilakukan kepada Anak yang Gemuk?

Sunat Lebih Berisiko jika Dilakukan kepada Anak yang Gemuk?

Sunat bagi masyarakat Indonesia bukanlah hal yang tabu. Sunat memiliki arti membuang sebagian atau seluruh kulit yang menutupi kepala penis yang kerap disebut kulup. Umumnya, anak laki-laki yang sudah cukup umur disarankan untuk melakukan tindakan sunat sebagai bukti kedewasaan mereka.

 

Menurut dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, pendiri Rumah Sunatan, ada kondisi di mana bentuk penis berbeda dari biasanya. Hal tersebut biasanya ditemukan saat hendak melakukan tindakan sunat, serta dinamakan mikro penis atau burried penis. Kedua kondisi ini sekilas tampak sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Mikro penis adalah kondisi di mana penis memiliki ukuran di bawah rata-rata atau lebih kecil dari ukuran normal. Sedangkan burried penis, ukurannya normal, hanya saja tertutup lapisan lemak di bawah perut.



 

Keadaan penis yang tertutup seperti burried penis dapat menyulitkan ketika hendak disunat. Anak dengan kondisi tersebut harus mendapatkan penanganan dari ahli yang profesional. “Jika garis sunat terlalu jauh dari kepala penis, akan mengakibatkan kulit batang penis terpotong dan kulup tertinggal di kepala penis. Keadaan penis yang tertutup ini paling banyak terjadi pada anak yang gemuk. Hal itulah yang membuat mereka harus melakukan 'sunat gemuk',” tutur dr. Mahdian, dalam seminar media di Rumah Sunatan beberapa waktu lalu.



 

'Sunat gemuk' sendiri memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan sunat biasa. Tim medis biasanya akan mengalami kesulitan dalam menentukan garis sunat, karena anatomi penis yang tersembunyi. Jika keliru dalam penanganan, risikonya kulup akan menutup kembali, sehingga anak yang gemuk ini harus menjalani perbaikan sunat. Hal tersebut pun akan membuatnya mengalami trauma, karena harus kembali disunat. (Aulia/DC/Dok. Freedigitalphotos) 



Tags: sunat_gemuk,   penis,   sunat_anak_gemuk,  








Cover Maret 2020