Mother&Baby Indonesia
Anak Laki-Laki Berisiko Buta Warna

Anak Laki-Laki Berisiko Buta Warna

Kerusakan sel kerucut (konus) di dalam retina membuat mata tidak mampu menangkap spektrum warna tertentu atau dikenal dengan buta warna. Kondisi ini dominan terjadi pada anak laki-laki. Buta warna bersifat genetik dan terkait dengan kromosom X. Untuk mengetahui apakah Si Kecil berisiko buta warna, lakukan beberapa hal berikut ini:

 

  • Jika Si Kecil sudah berusia 4 tahun dan belum bisa menyebutkan warna yang ia lihat, ajak ia mewarnai sebuah gambar. Misalnya, buat gambar daun dan minta ia memberinya warna hijau. Jika ia selalu mengambil warna merah untuk mewarnai daun tersebut, kemungkinan ia mengalami buta warna parsial (merah-hijau), karena melihat warna merah sebagai hijau.

 



  • Buat beberapa lingkaran bersambung dan berikan warna-warna lembut, seperti kuning muda, hijau muda, merah muda, dan putih. Minta Si Kecil menyebutkan warna-warna tersebut. Apabila ia mengatakan semuanya berwarna putih, besar kemungkinan ia mengalami buta warna total (hitam-putih).

 



  • Untuk lebih memastikan, buat beberapa lingkaran lagi dan warnai secara berselang-seling, misalnya dari warna kuning, merah muda, hitam, hijau muda, biru, dan putih. Jika Si Kecil menyebutkan semua rangkaian warna tersebut sebagai hitam dan putih, ia memang mengalami jenis buta warna total (hitam-putih).

 

  • Tes selanjutnya, buatlah sebuah gambar di atas kertas putih berupa titik-titik yang membentuk pola tertentu menggunakan warna lembut, seperti hijau muda atau merah muda. Minta Si Kecil menghubungkan titik-titik tersebut. Jika ia tidak dapat melakukannya, dipastikan ia memang mengalami buta warna.

 

  • Segera informasikan kepada guru di sekolah jika ia mengalami buta warna, agar mereka dapat memberikan keringanan pada pelajaran tertentu, seperti mewarnai gambar, melukis, dan membantu memberikan pengertian kepada teman-temannya. (Meiskhe/DC/Dok.M&B UK)



Tags: buta_warna,   anak_laki_laki,   gejala_buta_warna