Mother&Baby Indonesia
Polusi Udara Meningkatkan Risiko ADHD Pada Bayi

Polusi Udara Meningkatkan Risiko ADHD Pada Bayi

Para peneliti mengungkapkan paparan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) pada masa prenatal dan awal kehidupan bayi dapat meningkatkan risiko masalah perilaku dan perkembangan motorik yang berkaitan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kelak.

 

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak. Gangguan ini menyebabkan aktivitas anak cenderung berlebih dan tidak lazim. ADHD sendiri berbeda dari autisme, biasanya pengidap memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi dan mudah gelisah.



 

PAH sendiri merupakan senyawa yang terdapat pada asap kendaraan bermotor, asap pabrik, asap rokok, asap pembakaran arang, asap hasil kebakaran hutan, asap minyak goreng, aspalpetroleum, beberapa pelarut komersial, creosote (bahan pengawet kayu), dan juga hasilpirolisis karbohidrat, asam amino, serta asam lemak.

 

PAH ini tersebar luas terutama di lingkungan perkotaan di seluruh dunia sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil. Untuk mengurangi konsentrasi PAH di udara dapat menggunakan kontrol polusi yang tersedia saat ini, penggunaan sumber energi alternatif, efisiensi energi, dan intervensi regulasi untuk mengendalikan sumber pencemar.



 

Dr. Frederica P. Perera dari The Mailman School of Public Health, Columbia University, New York, beserta timnya menghubungkan antara paparan pada masa prenatal dengan campuran PAH dan DNA dalam darah ibu. Hasilnya menyatakan bayi yang dilahirkan akan berisiko tinggi mengalami ADHD. (AM/Sagar/DT/Dok. M&B)

 

Untuk mengetahui informasi seputar bayi dan balita, cek di majalah Mother&Baby edisi Januari 2015 ya, Moms!



Tags: bayi,   polusi,   adhd