Mother&Baby Indonesia
Rumah 'Terlalu' Bersih Sebabkan Anak Alergi & Asma

Rumah 'Terlalu' Bersih Sebabkan Anak Alergi & Asma

Anda mungkin sangat percaya bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Namun, rumah yang terlalu bersih ternyata tidak terlalu baik bagi anak-anak. Studi terbaru melaporkan anak yang tinggal di rumah terlalu bersih akan mengalami alergi dan asma saat mereka sudah cukup besar.

 

Dalam studi tersebut dijelaskan bayi ternyata lebih sedikit kemungkinannya untuk menderita alergi atau sesak napas saat mereka terekspos bakteri di rumah dan alergen dari tikus, kecoak, dan kucing selama setahun kehidupan pertamanya. Hasil penemuan yang cukup mengejutkan ini menindaklanjuti studi sebelumnya yang menerangkan bahwa peningkatan risiko asma di kalangan penduduk perkotaan disebabkan oleh banyaknya jumlah kecoak, tikus, feses hewan peliharaan dan pemicu alergi di sekitar mereka.



 

“Penemuan ini sangat mengejutkan dan bertentangan dengan prediksi kami sebelumnya,” ungkap wakil peneliti Dr. Robert Wood, kepala Division of Allergy and Immunology di Johns Hopkins Children's Center, Baltimore, AS. “Ini sangat berlawanan. Sebab ternyata semakin Anda sering terpapar oleh tiga alergen tersebut, justru semakin kecil kemungkinan Anda menderita sesak napas atau alergi.”

 

Sebanyak 41 persen anak-anak yang diobservasi dalam penelitan dan bebas dari alergi dan sesak napas ternyata tinggal di rumah yang penuh dengan alergen dan bakteri. Sebagai pembanding, hanya 8 persen dari anak-anak penderita alergi dan sesak napas yang terpapar kedua hal tersebut dalam setahun pertama kehidupannya.

 

Dr. Todd Mahr, seorang allergist-immunologist di La Crosse, Wisconsin, AS, menyebutkan, temuan tersebut mendukung “hygiene hypothesis”, yaitu anak-anak di rumah terlalu bersih cenderung untuk menderita alergi karena tubuh mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan respons yang tepat terhadap alergen. “Lingkungan sangat berperan penting. Jika kondisi lingkungan terlalu bersih, sistem kekebalan tubuh anak tidak akan terstimulasi,” jelas Mahr yang juga merupakan ketua American Academy of Pediatrics' Section on Allergy & Immunology.



 

Di Amerika Serikat, hampir separuh anak-anak usia 3 tahun mengalami sesak napas dan alergi yang nantinya berisiko berkembang menjadi asma saat mereka dewasa. American Lung Association pun mempublikasikan, saat ini asma masih menjadi penyakit umum yang menyerang sekitar 7 juta anak-anak di Amerika.

 

Dilansir melalui Babycenter, studi terbaru ini menyertakan 467 anak di daerah perkotaan, misalnya Baltimore, Boston, New York, dan St. Louis. Para dokter sudah mendaftarkan anak-anak tersebut sejak mereka masih berada di dalam kandungan. Kesehatan mereka terus diamati mulai dari hari pertama setelah kelahiran. Selain itu, para dokter pun mengunjungi rumah mereka untuk mengukur tingkat dan jenis alergen, serta mengumpulkan debu di sekitar seperempat dari rumah dan menganilisis kandungan bakterinya.

 

Mereka menemukan anak-anak yang rumahnya sangat bersih 3 kali lebih sering mengalami sesak napas pada usia 3 tahun dibandingkan dengan para anak yang sejak lahir tumbuh di rumah yang terekspos alergen-alergen tersebut.
Meski begitu, Wood dan Mahr mengungkapkan orangtua tidak serta-merta langsung memelihara hewan peliharaan atau membiarkan rumahnya kotor dan berantakan. “Lagipula ada banyak faktor lainnya yang dapat memicu terjadinya asma, yaitu rokok, stres yang tinggi di lingkungan rumah, atau terlambat terpapar beberapa alergen potensial setelah ulang tahun pertamanya,” tutur Wood. (Sagar/DT/Dok. M&B)



Tags: anak,   alergi,   asma,   alergen,   rumah,   lingkungan,   kebersihan,   kesehatan








Cover Maret 2020