Mother&Baby Indonesia
Pelecehan Seksual pada Anak (7): Mari Perangi Bersama!

Pelecehan Seksual pada Anak (7): Mari Perangi Bersama!

Kasus pelecehan seksual berkali-kali yang diterima oleh salah satu anak usia 5 tahun di sekolahnya, sedang menjadi sorotan publik. Salah satu bentuk perhatian masyarakat mengenai kasus pelecehan seksual ini bisa dilihat dalam sebuah situs platform petisi terbesar di dunia, change.org. Dalam situs tersebut, terdapat petisi yang ditujukan kepada pemerintah untuk menegakkan hukum seadil-adilnya dan memperbaiki UU yang mengatur hukuman kepada tersangka pelecehan seksual agar memberikan efek jera bagi pelaku sehingga tidak ada lagi kasus serupa terjadi di masa depan. Sampai dengan hari ini, petisi tersebut sudah didukung oleh 50.295 orang. Selain itu, Menteri Pendidikan dan KOMNAS Perlindungan Anak pun sudah bergerak untuk membantu menyelidiki kasus yang terjadi.

 

Psikolog Dra. Mira D. Amir menyebutkan pentingnya peran keluarga, terutama orangtua, dalam hal ini. Dari dalam rumah lah anak perlu dibiasakan bercerita dan mengungkapkan perasaannya setiap hari agar mereka nyaman dan menjadi terbuka. “Orangtua harus tetap tenang saat mendengarkan cerita mereka supaya anak menjadi percaya dan tidak keburu takut untuk menceritakan sesuatu,“ ungkapnya. Keluarga harus peka serta tidak menyepelekan setiap ucapan Si Kecil karena dari ucapan-ucapannya yang masih belum jelas itulah ia mencurahkan semua perasaannya, termasuk apabila ada sesuatu yang mereka anggap tidak beres.



 

Kasus pelecehan seksual memang tidak bisa ditanggapi secara enteng dan butuh kerja sama dari semua instansi terkait untuk menyelidiki hingga ke akarnya. Perilaku para pelaku tersebut bisa jadi disebabkan oleh trauma masa lalu karena mereka sebelumnya merupakan korban pelecehan seksual juga. Hal itulah yang kemudian membuat mereka menyimpan dendam sehingga melampiaskan amarahnya dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Psikolog Mira menambahkan kasus pelecehan seksual sebenarnya marak terjadi namun tidak terekspos, misalnya di daerah pedesaan, layaknya fenomena gunung es. “Bahkan saya baru mendengar kalau sebenarnya sudah ada pelaporan sebelum kasus anak ini di tempat serupa,“ ujarnya.

 



Sangat disayangkan memang kasus tersebut harus menimpa anak yang masih kecil dan sangat polos. Mungkin hal ini terjadi karena orang-orang menganggap para pelaku merupakan pihak yang bisa dipercaya. Untuk itu, ada baiknya setiap orangtua dan sekolah memberikan edukasi seks kepada anak, salah satunya yaitu dengan berkata tidak jika ada orang yang ingin menyentuh bagian-bagian tubuh yang pribadi, serta selalu waspada. (Sagar/OCH/Dok. M&B)

 

Ketahui tanda Si Kecil mengalami kekerasan seksual di sini.



Tags: anak,   edukasi seks,   seks,   seksual,   penganiyaan,   pelecehan seksual,   sekolah,   orangtua,   ibu,   ayah,   pel