Mother&Baby Indonesia
Waspadai Kelainan Darah Bayi

Waspadai Kelainan Darah Bayi

Ketidaksempurnaan kesehatan bayi tentu mencemaskan, apalagi jika gangguan menyerang sistem darah yang vital. Karena itu, kenali gejala kelainan darah sedini mungkin untuk memaksimalkan pengobatan.

 

"Kelainan darah memang bisa menyerang siapa saja, termasuk bayi. Bahayanya, kelainan ini bisa memengaruhi salah satu dari komponen utama darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), sel keping darah (trombosit), dan juga organ tubuh yang bekerja untuk darah, seperti jantung dan pembuluh darah," jelas dr. I. Gusti Ayu N. Partiwi, Sp.A.



Berikut beberapa jenis kelainan darah pada bayi yang harus Anda waspadai:

 

1.  Leukemia.  Penyakit ini sering disebut dengan 'kanker darah'. Jenis kanker ini terjadi akibat sumsum tulang menghasilkan banyak leukosit abnormal (leukemik), serta jumlah leukosit dan trombosit yang lebih sedikit. Sel-sel ini akan menyusup ke hati, limpa, dan kelenjar limfe, serta merusak sistem imun. Jenis leukemia yang umum menyerang bayi adalah leukemia limfoblastik akut. Gejala-gejalanya-- kulit pucat dengan bintik merah muda atau ungu merata, kulit mudah memar, kurang berenergi, bengkak pada kelenjar limfe, demam, nyeri tulang tungkai dan sendi, serta perdarahan gusi.

 

2.  Anemia Sel Sabit.  Jenis ini merupakan penyakit darah genetis yang serius. Eritrosit terdistorsi menjadi bentuk bulan sabit dan dapat memblokir pembuluh darah yang sempit. Sel-sel ini juga mudah hancur, sehingga terjadi anemia. Bayi pengidap juga berisiko terkena pneumonia pneumokokus. Bayi pengidap biasanya teridentifikasi dengan tes darah saat lahir. Gejala-gejalanya-- demam, pucat mendadak, muntah-diare parah, lemas, serta bernapas cepat atau sulit bernapas.

 



3. Trombositopenia.  Jenis kelainan darah ini dapat disebabkan oleh infeksi kuman rubella, sifilis, ataupun virus yang mengakibatkan jumlah trombosit sangat rendah dan abnormal. Kelainan ini bisa juga terjadi ketika sistem imun ibu menghasilkan antibodi dan merespons trombosit bayi. Tanpa cukup trombosit, sel-sel tubuh bayi bisa mengalami perdarahan, selain memar pada kulitnya. Jika terjadi perdarahan, eritrosit bisa pecah dan menyebabkan penumpukan pigmen kuning, yang berisiko pada otak dan organ vtal lain. Jika dibiarkan berlarut-larut dapat berkembang menjadi purpura trombositopenik idiopatik dengan gejala ruam dan perdarahan hebat.

 

4.  Hipoglikemia.  Ini adalah suatu kondisi ketika kadar gula darah lebih rendah dari normalnya. Sekitar 1-3 dari 1.000 newborn mengalaminya. Risiko bayi hipoglikemia bisa dipicu oleh ibu diabetesi, bayi prematur dengan berat lahir rendah, gizi buruk ibu selama kehamilan, penyakit hemolisis akut, asfiksia, kelainan hati, dan tekanan akibat kondisi ekstrem dingin. Gejala-gejalanya-- tubuh membiru (sianosis), berhenti napas (apnea), suhu tubuh rendah (hipotermia), lesu, dan kejang. (Dian/SR/Dok. Thinkstock)

 

Ingin tahu tentang jenis kelainan darah bayi lainnya? Simak info lengkapnya hanya di Majalah Mother&Baby Indonesia edisi Maret 2014.

 

 



Tags: kelainan darah bayi,   kanker darah,   leukemia,   hipoglikemia,   trombositopenia,   anemia sel sabit,   newbor