Mother&Baby Indonesia
Digital Generation

Digital Generation

Keizha, keponakan saya baru berumur 2 tahun, tetapi ia sudah pintar mengoperasikan gadget. Dengan sangat percaya diri, Keizha akan memencet tombol-tombol, bahkan gadget yang baru pertama kali ia pegang. Pertanyaan paling menggemaskan darinya adalah, "Password-nya apa, Ma?"

 

Di tengah zaman teknologi mudah dan murah, tidak mungkin Anda mengisolasi anak dari kecanggihannya. Anda mungkin terkagum-kagum ketika Si Kecil semakin akrab dengan istilah-istilah teknologi atau ketika Si Kecil hanya mau makan di restoran yang menyediakan fasilitas wi-fi.



 

Dampak positif dan negatif dari teknologi sangat banyak, tinggal bagaimana Anda memanfaatkan yang baik dan menghalau keburukannya. Tentu, langkah pertama adalah dengan menerapkan disiplin pemakaian teknologi kepada diri sendiri. Ya! Ingat-ingat saja betapa tidak indahnya pemandangan orangtua dan anak yang duduk semeja tetapi masing-masing sibuk dengan perangkat elektroniknya. Bisakah/ maukah/ mampukah Anda menahan diri sejenak tanpa gadget saat bersama Si Kecil?

 

Saat bersama Keizha, Gaby, dan Angie, tanpa mengeluarkan perangkat elektronik dari dalam tas saya, kami bisa melakukan banyak hal. Misalnya, berjalan-jalan sambil bergandengan tangan, saling menyuapkan es krim, dan bercanda sampai tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh, ini rasanya lebih tak ternilai daripada bermain game di gadget. Telepon genggam keluar dari tas di saat yang benar-benar diperlukan, seperti ketika Keizha meminta ibunya menjemput. "Mami, jemput Kei ya," katanya. Ternyata, anak usia 2 tahun pun bisa diajarkan manfaat tepat teknologi. Semoga pelajaran ini bisa juga Anda terapkan untuk keluarga Anda.



 

 

 

Salam,

Sandra Ratnasari
Editor in Chief Mother&Baby Indonesia

 



Tags: digital generation,   editor note,   edisi maret 2014